Rabu, 06 Januari 2010

Riadi Ngasiran : Catatan Sepenggal Perjalanan * Surat tentang Kris, Gerak dan Dinamika, dan Lain-lain

Hen, jam kerjamu memang kurang ajar.

Begitu lama kutak mampu menggerakkan tangan mengungkapkan perkenalan sosok pelukis dari kota Gresik, yang telah mengarungi perjalanan kreatif cukup panjang — setidaknya lebih 25 tahun hadir depan publik, tepatnya 1980 ia telah pameran di Gresik. Aku hanya mencerap sepenggal yang bisa kunikmati dalam proses pemaknaan bahasa lukis yang tersaji di sepanjang diamku. Diam ketika menikmati lagu gelombang, mengarungi lukisan-lukisan Kris Adji A.W., pelukis itu, menyimpan semangat. Ya, barangkali sebuah sepi gelombang dalam mengarungi diamnya.

Dalam sebuah momen kesendirian tiada kenikmatan tanpa memasuki ruang-ruang kontemplatif, menangkap gerak-berderak dari gelombang sebuah kesepian itu. Betapa kegairahan meluruhkan kegamangan, yang bagi insan kreatif, akan selalu menemukan jalan pijak atas pelbagai ikhtiar dalam mencari pemaknaan dirinya. Bukankah kesadaran paling hakiki dalam mengenal diri sendiri niscaya akan menemukan pintu kesadaran betapa di balik kerja kreatif itu terdapat kuasa kreativitas dari Sang Maha Kreator.


Meluruhkan ruang kosong kesendirian tidak serta-merta menangkap ilham. Sebuah ilham mustahil tercapai tanpa mela lui proses kerja atau, tepatnya barangkali, sebuah proses pembelajaran (process of learning). Ah, enaknya kita nikmati bersama larik-larik puisi ”Sungai dan Muara” penyair asal Cipasung, Acep Zamzam Noor: //Dalam kesepian yang sama. Kita menyalakan tungku di kamar/ Sambil membakar seluruh pakaian dan keyakinan kita Menjadi asap yang memenuhi ruang dan waktu/ Kita tak mengundang salju turun membasahi ranjang/ Tapi detik-detik menggenang dari cucuran keringat kita.// Seperti tengah berdialog dengan suasana ketika daun yang meluruh tiba-tiba dan membentuk ketakjuban alam semesta, memberikan puncak kesadaran pada yang sepi. Kita pinjam saja suasana itu, seperti kata Nina Minareli, dalam sajaknya "Aku Ingin Bertanya":

Tapi aku ingin bertanya lagi
Saat aku melukismu di bumi
Yang lain, memagari purnama
Dengan warna tembaga keyakinan
Pada dinding tua yang bisu.

Pemahaman tentang estetika yang kita kenal dalam seni rupa modern dunia memang menawarkan begitu banyak pilihan untuk dianut. Clive Bell, seorang pemikir dan filosof dari Inggris,menawarkan sebuah tesisnya yang terkenal bahwa pengalaman personal dan subjektif dari sang kreator atau seniman adalah sebagai sebuah pondasi dari penghayatan kita di dalam jagad kesenian. “All systems of aesthetics must be based on personal experience- that is to say, they must be subjective” (Clive Bell, Modern of Beauty and Style, Art [London: 1914]). Alhasil, mengapresiasi karya seni sebagai pengalaman estetis menjadi berbeda pada setiap individu. Setiap pemirsa sebuah pameran seni rupa, akan memiliki hak tafsir absolute untuk memahami keindahan dengan merujuk pada pengalaman-pengalaman internal si seniman atau pengalaman pribadi sendiri para apresian yang mungkin lebih intim dan tak terjelaskan secara logis, namun mampu dinikmati dalam ruang-privat batin.

Pendekatan subjektivitas ini, dalam paradigma Nietzsche (dalam bukunya The Birth of Tragedy) sebagai sebuah potret yang mewakili sifat dasar kesenian yang bisa dipahami dalam dua kutub: linieritas atau keteraturan dan ekspresivitas yang cenderung acak dan tak teratur. Lalu bagaimana dengan karya Kris Adji A.W. yang tengah mencoba mencuri perhatian publik? Pada karyanya berjudul Tarian Jiwa III, misalnya, ditampilkan seorang perempuan seolah diterpa dahsyatnya badai, rambut menjurai menandai gerak tubuh sang penari, dilatari rembulan dalam pusaran langit kelam. Selintas saya membayangkan: mengalir seperti air, luwes menembus ke mana-mana seperti angin, dan lunak seperti kapas. Demikianlah yang dikesankan oleh taichi, sejenis seni bela diri di negeri leluhurmu, jauh di daratan China. Awam melihatnya seperti tarian yang indah, yang gerakannya lambat dan tak berkeputusan, namun ternyata mengandung tenaga tersembunyi seperti gampang dilihat di film-film kungfu. Tarian itu, juga di dalam novel-novel silat yang populer di Indonesia, selalu digambarkan betapa justru kelembutannya yang mampu mengalahkan kekerasan.

Adakah kita temukan kesan mencekam dalam figur penari yang dihadirkan di situ? Memang terdapat kesan paradoks: gerak tarian yang lembut digarap dengan goresan yang keras terasa
kurang intens, menggoreskan bahan warna di kanvas, sehingga jauh dari suasana sublim. Kenyataan ini berbeda dengan karya Ju Ming, seniman kelahiran Taiwan tahun 1938, yang begitu memesona dalam patungnya. Bagaimana caranya dengan bahan sekeras dan sekasar batu kita menggambarkan sesuatu yang "mengalir, luwes, dan lunak, namun menyimpan tenaga"? Ju Ming telah menjawabnya dengan serangkaian patung bertema taichi yang mencengangkan. Taichi, baginya, bukan lagi sekadar gerak, sekadar seni bela diri, tetapi tampaknya menyuruk pada renungan tentang paradoks yang disediakan oleh alam.

Sepintas saya pun merasakan betapa goresan yang dihadirkan Kris Adji AW seperti kenyataan ekspresi yang dilakukan seseorang semasa kanak-kanak. Tapi, buru-buru saya harus mengoreksi kesan yang selintas itu. Saya seolah berada pada ruang yang menyesakkan untuk bicara, apalagi merenung lebih lama.

♦♦♦

Hen, Jam kerjamu rasanya memang kurang ajar.

Saya mencoba memahami betapa dalam dunia anak-anak, sikap-sikap subjektif, impulsif, polos, ekspresif dan menggebu-gebu, yang dikategorikan Nietzsche sebagai mewakili sifat-sifat Dyonisian. Sebuah term tentang karakter manusia purba yang memuja indikasi ke arah sifat-sifat ketidakteraturan atau di luar kendali diri seperti: suka menentang, merajuk, kasar, polos, naïf, acak dan sikap-sikap yang dinilai sebagai keliaran. Hasrat berperilaku instingtif yang demikian, sangat dekat dengan kejiwaan anak-anak dalam memahami realitas dunianya. Dalam kutub yang kutub yang lain, sebagai lawannya, bentuk kesenian yang berawal dari sifat keteraturan, objektif, logis, terkendali dan selalu sistematik sebagai ciri orang dewasa, menurut Nietzsche diwakili sepenuhnya oleh anasir jiwa Apollonian. Estetika yang bersumber dari subyektivitas jiwa anak-anak tadi, dalam sejarah seni rupa modern dunia juga dekat dengan pemikiran tentang ketidaksadaran (unconsciousness), baik personal ataupun kolektif sebagai akibat dari sistem represif atau tekanan secara terstruktur dalam masyarakat modern.

Adakah hal demikian terdapat pada Kris Adji A.W.? Saya menangkap ikhtiarnya untuk memaknai sebuah dinamika dan gerak hidup, belum beroleh jawaban yang pasti. Keragu-raguan untuk bercengkerama dan mencurahkan intepretasi begitu terbatas, hanya ketika menyaksikan peristiwa dramatik dalam kehidupan, seperti bencana alam, tsunami atau kepasrahan. Ah, ... kita pun harus tetap bergerak agar hidup tidak muspra tak hilang makna meski dera keterpurukan seolah tak pupus, silih berganti —janganlah gerak turut berhenti, seperti diingatkan Iqbal dalam sindirannya “berhenti adalah ambang kematian”.

Ihwal gerak sejak lama menjadi perhatian serius pelukis Italia, Giacomo Balla (lahir di Turin 18 Juli 1871 dan meninggal dunia di Roma, 1 Maret 1958) yang memperlihatkan secara abstrak yang mencerminkan pencarian musikalitas batinnya. Memang kita tidak menyaksikan secara jelas sosok anjing dalam Dynamism of a Dog on a Leash (1912, oil on canvas) atau burung terbang menawan dalam Flight of the Swallows (1913, tempera on paper). Tetapi, gerakan kaki hewan peliharaan itu seolah menghadirkan problem kreasi kecepatan irama yang menawan melalui citra yang sangat memperdaya; garis yang mengalun lewat burung-burung terbang berjajar penuh semangat dan repetitif. Gegaris itu lebih terasa bermakna gerak ketika Balla menyelesaikan karyanya yang lain, seperti Lines of Movement and Dynamic Succession (1913, tempera on paper) dengan persinggungan yang cukup kontras, gelap-cerah dan citra yang menghidupkan suasana. Karya-karya Giacomo Balla menunjukkan memikiran tentang dinamika masa depan secara dramatik dalam gaya melukis selanjutnya. Itulah partisipasi kreatif yang bisa kita nikmati hingga sekarang dalam pemaknaan citra gerak yang dinamis lewat lukisan.

♦♦♦

Hen, kekurangajaranmu membuatku bergerak dengan paksaan.

Sekadar mengingatkan, betapa para pelukis kesohor dunia juga meniru konsep mengenai tercampaknya kendali nalar, dan sepenuhnya menyerahkan pada sensorik bawah sadar subjektif si seniman dalam proses berkarya hingga dianggap menghasilkan karya yang lebih murni dan jujur. Dunia wadak, pada akhirnya direinterpretasi sebagai sebuah realitas estetik dalam wujudnya yang menyerupai dunia asing semacam ruang fantasi dan mimpi yang lebih bebas, terbuka dan imajinatif. Dalam kerangka psikoanalisis, pemikiran-pemikiran tersebut telah merombak sejarah seni rupa menjadi sebuah gerakan yang populer disebut sebagai surealisme. Bila kita pahami yang demikian, barangkali pada karya-karya Lucia Hartini, perempuan pelukis kita, cukup kuat memberikan pijakan fantasi yang dahsyat dan imajinatif: betapa gerak tarian seorang perempuan sedahsyat gerak ombak di samudera lepas. Ia hadir secara mengejutkan dan menegangkan —sebuah inner action yang menggelora yang segar dinikmati.

Sementara, subjektivitas dalam perspektif yang lain, dalam kosmos jiwa anak-anak juga diterjemahkan sebagai sebuah kehendak bebas dari sifat ego terpendam yang membutuhkan katarsis dan out let dalam berekspresi. Kemunculan aliran naïf setidaknya memiliki juga gejala kemiripan dengan pola yang semacam dengan itu. Bilaningsih, perempuan pelukis Surabaya, agaknya yang telah meletakkan konsep demikian dalam lukisan-lukisannya. Ditandai dengan sifat-sifat karya seni yang dekat dengan karakter anak-anak. Bisa disederhanakan dengan cirinya: lugas dan tak terikat oleh pakem-pakem tertentu. Atau, dalam perbandingan lain, merujuk pada lukisan-lukisan dan kaligrafi tertentu yang banyak sekali ditemukan dalam artefak kuno, daun lontar atau lukisan di gua-gua primitif dalam sejarah peradaban tua manusia. Kita bisa mengenalnya di dalam karya lukisan modern yang hendak menirunya dengan motif yang sangat internalistik sekali: coretan-coretan abstraktif atau figuratif bergaris tebal dan bergaya asimeterik serta warna-warna yang mencolok dan tidak harmonis dalam bentuk.

♦♦♦

Hen, masihkah kau memperlakukan jam kerjamu yang kurang ajar?

Dalam suasana gerak diam Tarian Jiwa-nya, Kris Adji A.W. menawarkan suasana yang paradoks dari tema sebelum itu. Jiwa yang terus bergerak, bukankah di dalamnya menyimpan
luapan harapan, optimisme, dan kemenangan? Dalam Tarian Bencana I, dan Tarian Bencana II yang inspirasinya dipetik dari bencana gempa bumi di Yogyakarta (dalam istilah Kris, ”Dari Yogya Kulihat Duka”) tarian itu bergeser menjadi harapan yang melemah. Suasana murung (atau mungkin merenung?) pada sosok lelaki yang diam, justru ketika menyaksikan kenyataan suasana alam yang mengelilinginya. Ketika angin berada di pusaran matahari (atau mungkin bulan) di awan biru, sosok lelaki justru merasakan kepedihan dan menumpangkan wajahnya di tangan yang bersilang di lutut (Nyanyian Malam II) atau dengan tubuh yang ringkih, sesosok lelaki menyaksikan pemandangan kelam, hitam-memerah-keabuan (Nyanyian Malam I).

Begitulah, kenyataan memang tak seindah harapan tapi, di situlah sesungguhnya kita tertantang, seharusnya meletakkan erat-erat harapan akan saat-saat yang kelak akan mencerahkan. Dalam kata-kata Goenawan Mohamad: //Ada panji sehabis perang, di Merapi, seputih mori, ketika Maut melemparkan sabitnya ke danau, dan padang perburuan pun menunggu sampai seorang anak menemukan sabit itu dan meletakkannya di atas pasir, dan tak seorang pun peduli// (”Tentang Optimisme”).

Tarian adalah sebuah metafora yang dipinjam Kris Adji A.W. Ini berbeda dengan Bagong Kussudiardjo (almarhum) yang juga dikenal sebagai penata tari, ketika melukis pun tak melepaskan objek tarian. Sejumlah karyanya yang terbilang tua, seperti Penari Baris (1999) salah satu yang harus disebut. Sekelompok penari yang digambarkan dengan warna kulit hitam legam-menjadi mencolok di dalam serangkaian karya lain, warna kulit sosok-sosoknya lebih terang atau lunak-beraksi di dalam gerak tari bersama. Latar warna kesumba, coklat susu, dan di bagian atas kebiruan, serta berbagai warna menyolok di bagian dada, menyangatkan misteri yang muncul dari wajah para penari. Mereka sebenarnya tak berwajah, karena hanya berupa sapuan warna (umumnya) putih keabuan, tanpa ada tanda-tanda yang mengisyaratkan mata, hidung, bibir, dan seterusnya. Ya, para penari tak berwajah sangat sering muncul di dalam taferil Bagong pada lukisan-lukisannya dekade terakhir. Ada yang muncul dengan bagian-bagian kostum cukup terinci seperti dalam Dua Penari Bali (1999), namun banyak lainnya yang memang merupakan bagian dari laku penyederhanaannya. Bagong Kussudiardjo memang penari, sedang Kris Adji A.W. adalah seorang guru di sebuah SMA di Gresik, menempuh pendidikan seni rupa di perguruan tinggi di Surabaya. Begitulah Kris Adji A.W. kemudian mengajar, berkesenian, melukis dan memamerkannya ke publik.

♦♦♦

Hen, kekurangajaran jam kerjamu lalu menyadarkanku.

Tiba-tiba saya menyadari, bukan Kris Adji A.W. sesungguhnya lebih memasuki wilayah yang begitu suntuk digelutinya dalam hidup sehari-hari, sebagai guru. Saya harus angkat topi atas usaha-usahanya ketika membukakan ruang-ruang bagi siswa-siswinya akan kesadaran apresiasi terhadap kesenian. Saya menyadari bahwa minat remaja akan seni dan budaya sangat, tergantung dari pendidikan dan tingkat pendidikan orang tuanya.

Kesimpulan ini pertama kalinya diketahui dari hasil studi Barometer Budaya Remaja, yang diumumkan kementerian pendidikan Jerman baru-baru ini di Bonn. Dari jajak pendapat dalam rangka studi tersebut lebih dari 2600 remaja yang berusia antara 14 sampai 24 tahun di seluruh Jerman terlibat dalam jajak pendapat sehubungan studi tersebut. Mereka ditanya tentang minat di bidang budaya dan kegiatan budaya yang dilakukannya masing-masing. Selain itu lebih dari 1000 orang tua yang memiliki anak di bawah usia 25 tahun juga dilibatkan dalam penelitian ini. Minat budaya remaja Jerman yang berusia antara 14 sampai 24 tahun tidak berkurang, malahan lebih bervariasi ketimbang dulu. Memang musik beraliran HipHop, Techno dan Pop menjadi kegemaran utama. Itu sudah menjadi bagian kehidupan sehari-hari. Namun musik klasik juga mendapat tempat di lingkungan remaja. Eminem, Britney Spears dan Robbie Williams adalah urutan teratas idola remaja Jerman.

Seniman seperti Pablo Picasso, Salvador Dali dan Van Gogh juga mendapat tempat dalam kehidupan budaya para remaja. Sementara itu pertunjukan seni budaya klasik seperti opera, teater dan konser yang di kenal dengan harga tiketnya yang mahal, masih enjadi penghalang minat budaya para remaja. Tawaran yang sesuai untuk ukuran remaja masih kurang. Semakin dini anak-anak atau remaja mengenal seni dan budaya, semakin berpengaruh positif bagi minat budayanya di kemudian hari. Yang juga menentukan adalah tingkat pendidikan orang tua dan pengaruh dari teman-temannya. Barometer budaya remaja berhasil menunjukkan pengaruh timbal balik antara aktivitas pendidikan dan penawaran budaya. Remaja yang terlibat aktif dan sering berhubungan dengan budaya, di waktu senggangnya lebih banyak membaca dan lebih terbuka terhadap seni dari budaya asing.

Sekolah memegang peranan penting. Meskipun demikian terbukti tidak terdapat kesempatan merata dalam pendidikan budaya. Sekolah-sekolah di kawasan pemukiman yang baik lebih banyak menawarkan aktivitas budaya dibanding sekolah-sekolah di kawasan sosial yang lemah. Maka, akhirnya saya harus meletakkan rasa hormatku pada kalian, kaum pendidik, yang dalam proses kreasi berkesenian juga bersentuhan langsung dengan mereka, para remaja yang berada di usia sekolah. Di sinilah, kehadiran Kris Adji A.W. terasa penting dalam mengiringi proses kesadaran apresiasi mereka.

Adalah penting mencerahkan dan memperhalus budi lewat institusi keagamaan atau pendidikan di keluarga dan sekolah. Di luar itu, ikhtiar memperhalus budi bangsa adalah mengembalikan seniman dan kesenian dalam pentas kehidupan publik. Kecenderungan sekarang, kapitalisme mendesak kesenian. Masyarakat kian materialistis dan konsumtif. Ruang publik miskin dengan kata-kata yang mencerahkan dan mencerdaskan. Kecenderungan itu harus diimbangi dengan penghalusan budi dengan membangun masyarakat yang menghargai penyair, pelukis dan seniman lainnya. Di sinilah apa yang dimaksudkan Yonky Karman, seorang pengajar Sekolah Tinggi Teologi Cipanas, sebagai “merekayasa budi bangsa”. Ia mengingatakan kita pada katga-kata di pusara penyair Gabriela Mistral (1889-1957), pemenang Nobel Kesusastraan 1945: ”Bagai jiwa untuk badan, begitu juga seniman untuk rakyatnya”.

Hen, dengan jam kerjamu yang kurang ajar, makin memberikan peluang bagiku tersadar: betapa diam tidak selalu menyimpan kemandekan. Gelora dan optimistis menjalani kenyataan terkadang bisa ditumbuhkan dalam diam. Biar pun kesadaran itu menghidupkan kembali mimpi-mimpi. Ia nyatanya ada meski terasa begitu jauh. Dan bukankah revolusi kesadaran pun muncul seolah lolongan anjing di padang pasir, yang kemudian menggerakan Khomeini dalam pusaran sejarah di abad silam?. ♦

Surabaya, 09 November 2006 (02:42)
Salamku.

========
NB:
a. Saya menggunakan sapaan Hen untuk penyair Mardi Luhung, dengan manuskrip puisinya ”Jam Kerjaku yang Kurang Ajar”. Sebagai guru dikenal dengan Pak Hendry.
b. Sekadar pengayaan imajinasi dari pelukis lain, saya coba sertakan tiga karya Giacomo Balla (lahir di Torino 1871 — meninggal di Roma 1958)

 Riadi Ngasiran, penulis kesenian, wartawan Harian DUTA Masyarakat, pengurus KSRB. Tinggal di Surabaya.

1 komentar:

Anda Mencari Apa ?