Kamis, 14 Januari 2010

Seni Sebagai Duta untuk Melongok Ke Dalam Islam

oleh Alan Riding
08 September 2006
Cetak
Email
London – Bukanlah sebuah kebetulan yang menggembirakan bahwa galeri seni Islam di Museum Victoria dan Albert yang baru diperbaharui dengan indah harus dibuka bulan lalu bertepatan dengan saat Timur Tengah sekali lagi terbakar.

Biar bagaimanapun, salah satu tujuan galeri tersebut adalah untuk mempertunjukkan kepada para pengunjung yang sebagian besar orang Barat suatu gambaran yang berbeda dari dunia Islam, gambaran yang begitu hidup tentang kecanggihan cita rasa keindahannya yang begitu berbeda dengan gambaran umum keradikalan yang sering ditampilkan dalam halaman muka berbagai harian.

SENI ISLAM DI NEGERI KOMUNIS (CINA)

Oleh Mohammad Monib

KUNJUNGAN saya ke China, tepatnya di kota Guangzho. tahun lalu, masih menyisakan beberapa cerita yang belum seluruhnya tuntas penulis kisahkan. Salah satunya adalah eksisnya kaligrafi Islam yang cukup memperoleh perhatian masyarakat komunis China. Tentu penikmat dan kolektor utamanya adalah masyarakat muslim China. Bahkan, belakangan ini I masyarakat dan peminat seni Islam dunia berlomba-lomba mengoleksinya.

Adalah Noordeen (baca.Nurdin) atau lebih akrab disapa dengan sebutan Haji Noordeen ini terlahir dengan nama Mi Guang-jiang. Ia seorang tokoh seni kaligrafi Islam bergaya, kultur Tionghoa, la lahir 46 tahun silam di provinsi Shandong China. Noordeen telah mendedikasikan dirinya pada dunia seni Islam dan China. Dari jiwa seninya, lahir seni akulturasi seni dan out put-nya sangat memukau dunia kaligrafi internasional.

PENDIDIKAN SENI (RUPA) VS PASAR

Hari-hari belakangan ini dunia pasar seni rupa (lukis) sibuk membincangkan seni rupa (lukis) kontemporer China. Bukan hanya mutu karyanya yang dibincangkan, tetapi yang lebih seru karya-karya itu diperebutkan oleh para pemain di medan pasar. Para pemain itu terdiri dari para kolektor, art dealer, broker, dan sebagainya. Medan perebutan itu terjadi di sejumlah galeri dan lelang. Pendeknya, kini terjadi booming seni lukis China.

Booming itu membuat mata dan telinga para pemain di medan pasar terus mendeteksi apa yang terjadi hari ini dan kemudian. Mereka terus memerhatikan perkembangan kecenderungan karya yang diburu dan kecenderungan kisaran harga yang terus-menerus memperlihatkan perubahan. Bahkan, perubahan itu ada banyak yang mengejutkan, melompat puluhan kali dari estimasi harga semula.

Maka, tidak aneh, kalau sekarang nama-nama sejumlah pelukis kontemporer China semacam Fang Lijun, Yue Minjun, Yang Shiaobin, Zhang Xiaogang, Wang Guangyi menjadi menu utama obrolan para pemain di medan pasar.

STUCKISME: Gerakan Kesenian di Inggris

Stuckisme
billy-childish400-truth-lies-and-audiotape.jpg
Stuckisme (stuckism) merupakan sebuah gerakan kesenian yang terjadi di Inggris dimulai pada tahun 1999 dengan tokoh pendirinya Billy Childish dan Charles Tompson yang tergabung dalam kelompok stuckist pertama dengan anggota 13 orang. Gerakan seni ini muncul sebagai reaksi dari dominasi wacana estetika dan pasar seni dari eksponen-eksponen Young British Artists (YBA). Dominasi mereka yang begitu besar di Inggris juga didukung oleh monopoli pasar oleh dealer seni Charles Saacthi, yang ditandai oleh tersingkirnya para seniman lain yang berada diluar form mereka.
Gerakan ini selain mempertentangkan persoalan dominasi YBA, monopoli Saacthi, juga menentang ideologi seni postmo dan conceptual art yang dianggap sudah terlalu establish di Inggris. Selain itu mereka juga menyoroti permainan-permainan kotor para kurator, serta skandal di Tate Britain. Aksi mereka banyak mandapat sorotan publik terutama ketika mereka membeberkan beberapa skandal yang terjadi di seni rupa kepada dewan kehormatan seni. Dan beberapa laporan ini membongkar kebusukan-kebusukan yang terjadi dalam institusi seni yang dilaporkan tersebut. Berita ini mendapatkan simpati publik sehingga para stuckist semakin diterima dimasyarakat.
Penamaan stuckism diambil begitu saja dari sebuah puisi Tracey Emin ketika mengomentari lukisan Billy Childish, pacarnya. Stuckism berasal dari kata “stuck” yang merupakan kata yang sering diulang oleh tracey emin dalam puisinya itu ” Your panting are stuck, …. Stuck! Stuck! Stuck!). Anggota yang bergabung dalam kelompok stuckisme ini disebut stuckist.

Untuk menandai keberadaannya, para stuckist ini membuatan manifesto-manifesto yang intinya berisikan sikap mereka terhadap seni postmo dan conceptual art serta ketidakpercayaan mereka terhadap para kritikus seni. Manifesto pertama mereka menentang sikap anti proses dari seni postmo, pemakaian artisan, dimana seniman tidak lagi terlibat secara fisik dalam pembuatan karya seni. Seorang seniman bagi mereka harus terlibat langsung dalam pembuatan karyanya. Mereka menyatakan bahwa “artist who don’t paint aren’t artists “, atau kurang lebih berarti, seniman tidak terlibat secara fisik dalam pembuatan karya seni bukanlah seniman. Pada manifesto kedua mereka menyatakan keinginan mereka untuk menggusur seni postmo dengan paham remodernisme sebagai periode pembaharuan nilai spiritual seni, sosial dan kebudayaan.
Remodernisme
Paham ini dibuat sebagai suatu bentuk protes terhadap kegagalan seni konseptual dan postmodern dalam membangun jembatan dengan publik. Pada perkembangannya Seni postmo jauh lebih bersifat ekslusif, elit dan jauh dari tataran sosial diluarnya. Seni postmo tidak menjanjikan apapun pada pemahaman berkesenian, karena hanya sekedar sebuah interupsi dari seni modern sehingga kondisinya sekarang dianggap sudah mapan dan tidak berkembang. Yang dilakukan oleh para penganut seni postmo tidak lebih dari sebuah repetisi yang membosankan dan memperlebar jarak dengan tataran sosio kultural masyarakat. Seni postmo hanya tinggal sebuah konvensi karena kegagalannya memberikan nilai-nilai dalam kehidupan manusia.
Remodernisme menerapkan ulang modernisme, memperbaiki visi dasarnya, disisi lain meninggalkan azas formalisme-nya. Remodernisme juga meliputi perbaikan akan nilai-nilai dalam sebuah karya seni, bahwa nilai – nilai kebentukan menjadi sangat penting menyangkut peranannya sebagai medium dan kegunaannya sebagai bahasa komunikasi, ekspresi dari emosi dan pengalaman. Remodernisme juga meliputi perbaikan nilai-nilai spritual seni yang meliputi kajian kemanusiaan dan itegritas antara nilai-nilai holistik dengan seni.
Peran Stuckists dalam seni kontemporer
Dalam bukunya, ” The stuckists : The First remodernist Art group” dinyatakan bahwa stuckists menerapkan prinsip modernisme, dan menggunakannya untuk berkesenian dengan mempertimbangkan nilai spiritual dan hubungannya dalam realitas sehari-hari. Semua anggota yang bergabung dalam stuckisme mempunyai komitmen secara alami dengan hal ini.
Pada prinsipnya, peran stuckists dalam seni kontemporer adalah usaha untuk menghidupkan kembali semangat itegritas personal sebagai dasar berkesenian. Menolak kompromi dengan trend dan pemakaian machiavellian middlemen (perantara/pialang) seni.
Stuckists menolak karya seni yang dihadirkan tanpa sebuah proses yang melibatkan seniman seperti halnya seni konseptual dan seni post modern. Stuckisme membawa sebuah nuansa baru dalam berkesenian untuk mengganti wacana seni konseptual dan seni postmodern yang dianggap telah mencapai titik mapan (establish).
Pemikiran stuckists lebih banyak diikuti oleh seniman muda dan siswa seni, jauh berbeda dengan seni postmo yang bekerja pada wilayah seni yang ekslusif dan umumnya didominasi oleh seniman mapan. Hal ini merupakan sebuah tanda bahwa stuckisme dibuat untuk masa depan seni kontemporer.
Kegiatan
Setelah berdiri tahun 1999, perupa Ella Guru dari kelompok pendiri stuckists membuat website stuckists. Kelompok ini dimuat pertama kalinya di media dalam artikel ” Evening Standart”. Proses berdirinya stuckists ini ditandai dengan pameran pertama mereka berjudul “Stuck! Stuck Stuck!” di Joe Crompton’s Gallery 108 di Shoredicth. Pada tahun yang sama mereka berpameran “Resignation of Nicholas Serrota”. Tahun 2000 mereka mnyedot perhatian publik dengan melakukan demonstrasi di depan Tate Gallery untuk memprotes Turner Prize serta diiringi dengan pameran “The Real Turner Prize” pada waktu yang bersamaan dengan Turner Prize versi Tate Gallery. Kegiatan ini terus dilakukan selama tahun 2000- 2006 dan didalam demo ini mereka datang dengan berpakaian badut.
Pada Tahun 2002 sampai 2005 Charles Thompson mengelola pusat stuckists Internasional dan galerinya di Shoreditch London. Pada tahun 2003 galeri ini berpameran dengan judul ” A dead shark isn’t art“, dalam pameran ini dipamerkan ikan hiu yang dulunya pernah dipamerkan pertama kali oleh Eddy Saunders di tokonya di Shoreditch, JD Electrical Supplier tahun 1989 (2 tahun sebelum Damien Hirst dari Young British Artists memamerkan ikan hiunya). Dalam pameran ini dijelaskan bahwa Damien Hirst pernah datang dan melihat hiu tersebut dan menjiplaknya dengan demikian Saunderslah seniman penemunya.
Tahun 2002 mereka berdemo dengan membawa peti mayat bertulis ” The Dead of Conceptual Art” ke White Cube Gallery. Tahun 2003 mereka melaporkan Charles Saatchi ke komisi etik dagang, mengadukan monopoli Saatchi terhadap seni. Di tahun ini pula kelompok stuckisme fotografi didirikan oleh Lary Dunstan dan Andy Bullock. Diluar Britania Raya, diselenggarakan demo ” The Clown Trial of President Bush” dalam rangka protes terhadap perang Irak.
Tahun 2006 mereka membuat pameran “Go West” di galeri komersil West End Spectrum London. Pameran ini sebagai tanda masuknya stuckisme sebagai pemain utama dalam dunia seni. Pada tahun yang sama, pameran pertama mereka di galeri nasional dengan judul “The Stuckist Punk Victorian” digelar. Pemeran ini diselenggarakan di Walker Art gallery dan Lady Lever Art Gallery yang tergabung dalam rangkaian Liverpool Biennial. Pameran ini menampilkan 250 lukisan dari 37 seniman dari Inggris dan seniman internasional dari jerman, Amerika Serikat, dan Australia. Pameran ini juga dibarengi dengan peluncuran buku ” The Stuckists Punk Victorian“. Pada saat yang sama digelar pula simposium internasional di Universitas John Moores Liverpool. Aktivitas ini juga diikuti oleh pameran pendampingnya di 68 hope gallery milik Universitas John Moores.
Pengembangan Internasional
Stuckists berkembang menjadi gerakan internasional dan ditahun 2006 telah bergabung 138 kelompok dari 34 negara. Selanjutnya di tahun 2007 telah tergabung sebanyak 163 kelompok dari 40 negara.
Para stuckist di seluruh dunia bergabung atas dasar kesamaan visi, dan kesadaran yang sama akan nilai-nilai modernisme dan bahaya seni konseptual. Sampai tahun 2007 telah berdiri 4 Pusat Stuckists Internasional (International Stuckists Centre) sebagai tempat bagi para stuckist untuk saling berinteraksi dan bertukar pikiran. Gerakan ini bekerja secara swadaya, tanpa sponsor, galeri, dll, sehingga kemurnian pemikiran mereka tetap terjaga. Stuckisme merupakan gerakan yang bebas dan anggota yang bergabung masuk secara sukarela.
Setelah simposium pertamanya, stuckists international terus bertambah jumlahnya hingga sekarang. Hal ini beriringan pula dengan munculnya kembali pertanyaan akan arti seni dan seniman serta perenungan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, personalitas, dan keterampilan didalam seni.
Pameran-pameran stuckists Internasional meliputi, Perancis, United Kingdom (Inggris/Britania Raya), Amerika Serikat, Australia,Yunani, Jerman dan Belgia. Pameran mulai di gelar sejak tahun 2000 hingga sekarang.
Indonesia
Pada dasarnya stuckisme belum disadari secara nyata keberadaannya disini, tetapi gejala-gejala kegelisahan yang terjadi di kalangan pelaku seninya hampir sama, tapi dalam bentuk dan nama yang berbeda. Seni rupa kontemporer Indonesia belum begitu diracuni oleh wacana seni konseptual dan postmo, tetapi lebih banyak dirusak oleh trend pasar dan praktek kuratorial yang tidak sehat. Disisi lain, pemikiran akan pentingnya sebuah identitas personal dan pentingnya proses berkesenian tetap terjaga dikalangan seniman dan para siswa seni. Kondisi ini berbeda dengan seni kontemporer di Inggris yang sangat didominasi oleh seni postmodern.
Seni rupa kontemporer Indonesia mempunyai masalah yang lebih kompleks dan spesifik dibanding Inggris maupun Eropa. Jika seni Inggris dikuasai oleh wacana estetika dan pasar seni oleh seni konseptual Young British Artist, sedangkan seni Indonesia dirusak oleh institusi eksebitifnya (praktek kuratorial, galeri, machiavellian-Middlemen/pialang, dll). Selain itu infrastruktur seni yang ada di Indonesia belum selengkap yang ada di Indonesia belum selengkap di Eropa.


TIPS

Para pengunjung Blog Kris Adji AW Gallery, kini anda bisa mendapatkan berbagai tips yang berhubungan dengan SENI RUPA. Misalnya jika anda memiliki sebuah atau lebih karya lukis dan bagaimana merawatnya, anda dapat mengKLIK di SINI :
Blog Kampoeng Gallery

Dan jika anda seorang pendidik atau siswa, mahasiswa seni rupa/disain atau siapapun anda yang ingin lebih dalam memahami seni rupa, maka anda dapat menuju blog :
Tips Sang Guru (klik langsung di sini juga boleh, he..he..he)
Kalo anda suka otomotif klik aja DI SINI
SELAMAT MENIKMATI TIPS-TIPS DARI SAYA, SEMOGA BERMANFAAT...
eh ya.. kritik dan saran anda selalu ku nantikan...okey? Thanks..

ADVERTISING/IKLAN

IKLAN-IKLAN YANG MENDUKUNG KEHIDUPAN BLOG INI:

1. Daftar hanya 10 ribu, tanpa membuat web hasilnya jutaan
2. Daftar 100% gratis, hasil jutaan rupiah. 
3. Ingin memiliki bisnis hebat yang telah teruji mampumenghasilkan uang dari internet?... Tanpa merancang


MUASAL SENI LUKIS INDONESIA MODERN

Seni Lukis Modern Indonesia diawali dengan sejarah Belanda menjajah di Indonesia. Kecenderungan seni rupa Eropa Barat pada zaman itu ke aliran romantisme membuat banyak pelukis Indonesia ikut terpengaruh mengembangkan aliran ini. Awalnya pelukis Indonesia lebih sebagai penonton atau asisten, sebab pendidikan kesenian merupakan hal mewah yang sulit dicapai penduduk pribumi. Selain karena harga alat lukis modern yang sulit dicapai penduduk biasa.

Raden Saleh Syarif Bustaman adalah salah seorang asisten yang cukup beruntung bisa mempelajari melukis gaya Eropa yang dipraktikkan pelukis Belanda. Raden Saleh kemudian melanjutkan belajar melukis ke Belanda, sehingga berhasil menjadi seorang pelukis Indonesia yang disegani dan menjadi pelukis istana di beberapa negera Eropa.

Namun seni lukis Indonesia tidak melalui perkembangan yang sama seperti zaman renaisans Eropa, sehingga perkembangannya pun tidak melalui tahapan yang sama.

Era revolusi di Indonesia membuat banyak pelukis Indonesia beralih dari tema-tema romantisme menjadi cenderung ke arah "kerakyatan". Objek yang berhubungan dengan keindahan alam Indonesia dianggap sebagai tema yang mengkhianati bangsa, sebab dianggap menjilat kepada kaum kapitalis yang menjadi musuh ideologi komunisme yang populer pada masa itu. Para pelukis kemudian beralih kepada potret  kehidupan nyata masyarakat kelas bawah dan perjuangan menghadapi penjajah.

Selain itu, alat lukis seperti cat dan kanvas yang semakin sulit didapat membuat lukisan Indonesia cenderung ke bentuk-bentuk yang lebih sederhana, sehingga melahirkan abstraksi.
Gerakan Manifesto Kebudayaan yang bertujuan untuk melawan pemaksaan ideologi komunisme membuat pelukis pada masa 1950an lebih memilih membebaskan karya seni mereka dari kepentingan politik tertentu, sehingga era ekspresionisme dimulai. Lukisan tidak lagi dianggap sebagai penyampai pesan dan alat propaganda, namun lebih sebagai sarana ekspresi pembuatnya. Keyakinan tersebut masih dipegang hingga saat ini.

Perjalanan seni lukis kita sejak perintisan Raden Saleh sampai awal abad XXI ini, terasa masih terombang-ambing oleh berbagai benturan konsepsi.

Kemapanan seni lukis Indonesia yang belum mencapai tataran keberhasilan sudah diporak-porandakan oleh gagasan modernisme yang membuahkan seni alternatif, dengan munculnya seni konsep (conceptual art): "Contemporary Art", “Installation Art”, dan “Performance Art”, yang pernah menjamur di pelosok kampus perguruan tinggi seni sekitar 1993-1996. Kemudian muncul berbagai alternatif semacam “kolaborasi” sebagai mode 1996/1997. Bersama itu pula seni lukis konvensional dengan berbagai gaya menghiasi galeri-galeri, yang bukan lagi sebagai bentuk apresiasi terhadap masyarakat, tetapi merupakan bisnis alternatif investasi.

ABOUT ME

Mengenai Saya

KRIS ADJI AW Pelukis, dilahirkan di Gresik menjelang fajar 22 November 1961. - Salah satu ketua Dewan Kesenian Gresik (DKG) periode 1999 – 2006. Sekaligus sebagai perintis bedirinya DKG.Berdasarkan hasil Musyawarah Seniman-Budayawan Gresik 2007 terpilih sebagai Ketua Umum Dewan Kesenian Gresik (DKG) periode II (2007-2012). Juga sebagai Ketua Bidang Seni Rupa LESBUMI NU Wilayah Jawa Timur periode 2007-2012). - Sebagai pendiri Sanggar Lentera Gresik dan anggota Sanggar Sangkakala Surabaya. - Lebih dari 50 kali pameran bersama antara lain di Anjungan Jogyakarta, TMII Jakarta, Galeri Ancol Jakarta, Bentara Budaya Jogyakarta, Pusat Kebudayaan Perancis Surabaya, PPIA Surabaya, Galeri DKS Surabaya, Bank Duta Surabaya, Balai Surabaya Post Surabaya, dalam berbagai wilayah Jatim (Gresik, Sidoarjo, Madiun, Lamongan, dll). - tiga kali pameran tunggal di Galeri DKS Surabaya dan di Gresik. - Sesekali mengorganisasikan pameran dan narasumber dalam diklat, seminar dan berbagai kelompok diskusi.


Alamat : Jl. Sadar 17 / 15 Gresik 61119 Telp. (031) 3974775, (031) 71152775

Rabu, 06 Januari 2010

Kris Adji AW: KALAU SAYA BICARA LUKISAN SAYA

Sebagai muslim,apapun yang saya lakukan mengharap menjadi bagian dari ibadah.Demikian pula pada saat saya melukis.Lingkungan,situas,dan kondisi yang terjadi di sekitar saya adalah sumber inspirasi penciptaan dan kreatifitas saya.kadang secara simbolik,maupun ekspresi,serta perilaku manusia menjadi ungkapan garis dan sapuan warna dalam karya saya.Nilai-nilai psikologis,religius,dan kemanusiaan menjadi pijakan dalam karya-karya saya “Dalam melukis aku dapat memvisualkan dan mengungkapkan getaran-getaran kegelisahan jiwa.Renungan hidup manusia dan alam semesta kugauli untuk menemukan hakekatnya.Demikianlah lukisan saya.”


MENGAPA GERAK TARI ?

Tarian adalah gerak ritmis dinamis yang hakikatnya adalah ungkapan ekspresi jiwa.Kegelisahan,kamarahan,kesedihan bahkan kebahagiaan,keserakahan atau mungkin renungan hidup sampai dengan ekspresi persembahan kepada Tuhan yang maha Perkasa.
Gerakan-gerakan fisik manusia yang diekspresikan dalam tarian bisa jadi adalah gerakan-garakan spontan (tidak mengada-ada) yang begitu saja terjadi akibat desakan-desakan yang amat kuat dari segala permasalahan yang mendesak dalam jiwa manusia.
Setiap gerakan-garakan spontan(seperti halnya berteriak,menangis,bahkan pingsan sekalipun) yang muncul dalam diri kita pada hakikatnya adalah tarian jiwa yang tervisualkan lewat fisik atau raga yang kasat mata dari manusia.
Karena itulah dalam periode lukisan-lukisan saya yang mutakhir ini mengambil seri gerakan tari seperti yang saya uraikan di atas.Gerakan tari tersebut menarik untuk digarap karena menurut saya gerakan-gerakan tari dalam goresan lukisan akan lebih mampu mewakili secara simbolik pada permasalahan-permasalahan yang terjadi di lingkungan sekitar.Baik makro maupun mikro,alam yang nampak maupun alam yag abstrak,realita sosial maupun perjalanan religius,bahkan mungkin isyarat masa depan.
Kalaupun jika ada yang berubah itu adalah tuntutan dari gerakan kreatifitas dalam berkarya.Namun demikian insyaAllah basic saya tidaklah berubah.Begitulah lukisan saya.

Mardiluhung: AKU MENGENAL KRIS

Aku mengenal Kris sudah lama. Saat aku masih memakai baju SMA. Nama Kris (disamping Hanavy dan Tiko Hamzah) sudah menjadi pembicaraan di dunia lukis di Gresik. Dan itu terjadi sekitar tahun akhir 80-an. Dan waktu itu, aku sering melihat Kris memamerkan hasil karyanya. Dan setiap pameran itu, nama Kris selalu menjadi pembicaraan, disamping nama-nama lainnya.




Lalu, ketika membentuk DKG ( akhir tahun 2000-an ), aku mulai tahu jika Kris juga seorang guru kesenian. Dan waktu itu, pikiranku pada Kris cuma satu, pengen tahu, bagaimana sih sebenarnya saat menjadi pelukis, dan saat menjadi guru kesenian. Apa ada perbedaan? Apa ada persamaan? Atau lainnya. Dan ketika DKG tak jalan. Tak bergerak. Tapi, tetap dipaksa hadir, aku dan Kris telah menjadi kawan dekat. Itu terjadi, aku juga mengajar di sekolah yang tempat Kris juga mengajar ( ini terjadi awal tahun 2000-an ).

Ternyata, yang menarik saat mengajar, Kris seringkali tanpa sadar, masih menganggap wilayah ngajarnya tak lebih seperti sebuah kanvas. Kanvas yang enak untuk digores atau di warnai. Dan saat mewarnai atau menggores itu, kadang-kadang Kris seringkali melakukan goresan atau sapuan lembut. Dan kadang-kadang pula malah spontan, ekspresif dan mengejutkan.

Misalnya saat ngomong-ngomong santai di warung (setelah mengajar ), tiba-tiba Kris punya pikiran untuk melukisi tembok-tembok yang ada di sekolahan dengan para siswa. Dan pikiran ini pun langsung direalisasikan. Dan hasilnya, dunia sekolahan yang umumnya bersih, putih dan seragam, pun tiba-tiba menjadi warna-warni dan hidup. Dan beberapa guru, yang semula kecut, pun bisa menerima sebagai sebuah hasil dari pikiran pelukis yang mengajar bukan dengan teori. Tapi, langsung dengan simpati dan empati.

Atau yang lain: saat penutup tahun ajaran, tiba-tiba Kris pun punya pikiran untuk menjadikan ruang kelas siswa sebagai kanvas tiga dimensi. Dan hasilnya, hampir seluruh kelas ( di SMA NU I Gresik ) pun berubah menjadi karya instalasi siswa yang cukup mengejutkan. Dan cukup pula untuk dijadikan sebagai bahan kajian keberhasilan psikomoterik dari para penghuni kelas itu ( si murid ).

Dari sikap, pikiran dan tindakan yang serba mengejutkan, mendadak, ekspresif, spontan dan langsung inilah, maka tak heran, jika kemudian ketika aku disodori sekian lukisannya. Lukisan yang memiliki periode yang berbeda-beda, aku melihat Kris sepertinya tak mau terikat pada satu bentuk dan wilayah yang tetap. Masalahnya: pada periode-periode tertentu, hampir seluruh lukisan Kris berwarna gelap, dan periode-periode yang lain berubah. Ada yang abstrak, surealis, dekoratif dan yang terakhir, yang dipamerkan ini ( The Dance in Trance ), malah seperti komik. Dengan goresan dan sapuan hampir bisa dikata kan sangat minimal dan cuek bebek.

Jadinya, jika aku tak mengikuti periode-periode sebelumnya, barangkali ( lewat The Dance in Trance ) aku akan menganggap Kris bukanlah seorang pelukis yang baik. Malah bisa dikatakan, sebagai pelukis yang pas-pasan. Tapi, kini, jika sudah tahu, bahkan Kris pun pernah studi tentang lukis, timbullah pertanyaan dari dalam diriku. Apa benar sih bentuk yang seperti komik, yang hampir semuanya repetitif dengan sosok orang yang menari itu, bukan merupakan kesengajaan dari Kris, yang memang suka perubahan itu?

Dan jika memang kesengajaan, lalu apa motivasinya? Penjelajahankah? Pencariankah? Penemuankah? Atau, ya, malah sebuah pilihan yang keliru? Tentu saja, ini tak bisa aku jabarkan di sini. Yang jelas, dengan keberaniannya untuk berpameran ( dengan bentuk-bentuk repetitif dari sosok orang menari ), aku Cuma bisa angkat topi. Dan berkata dalam hati : “Ingatlah, semakin kita berani untuk keluar, semakin itu pula tantangan kita semakin besar. Dan hanya orang-orang besar saja, yang memang layak untuk mendapat tantangan yang besar!”.

Tapi, masalahnya: “Apa benar sih Kris ini orang besar?”. Pertanyaan inilah yang aku tunggu jawabannya. Salam.

(Gresik, 10 November 2006)

 Mardiluhung, guru dan penyair angkatan 2000. Puisinya terhimpun dalam antologi bertaraf Nasional. Penerima penghargaan Seniman Jatim dari Gubernur tahun 2006. Penyair yang lahir di Gresik, 5 Maret 1965 ini juga pemenang penulisan Essay tingkat Nasional tahun 1999 dan 2005.

Mardiluhung : KRIS YANG AKU KENAL

Kris Adji AW adalah pelukis dari Gresik. Lahir sekitar 45 tahun yang lalu. Sejak SLTA ia memang senang melukis. Dan sejak SLTA itu pun ia kerap melakukan pameran. Baik secara sendirian maupun bersama-sama dengan pelukis lain. Dan selama menapaki dunia lukis itu, beberapa periode dari proses kreatifnya pun bermunculan. Ada periode Potret (Realis-Naturalis), Tegar (Abstrak), Fantasi (Surealis-Dekoratif) dan Komikal. Di mana semua periode itu bukan muncul secara periodik. Melainkan bisa tumpang tindih, ganti berganti. Yang kata Kris Adji AW,” Itu bergantung mood yang ada”.


Dalam pameran kali ini, entah mengapa tiba-tiba Kris Adji AW (Setelah masuk ke periode hijau), malah mengusung periode komikal. Periode yang telah dilakoninya sekitar tahun 1990-an. Dan ciri utama periode ini adalah bentuk-bentuk tubuh yang dilukis seperti sebuah cerita. Sebuah dongeng dari apa yang telah terjadi pada diri manusia. Diri yang seperti sedang memasuki pelataran dari sebuah persoalan.

1. Menangis Tanpa Suara
Menangis Tanpa Suara adalah sebuah judul lukisan Kris Adji AW yang pertama. Objek lukisan itu adalah seorang lelaki yang sedang duduk sambil menyembunyikan wajah di antara lututnya. Tangannya besar, terbuka seakan telah kehilangan sesuatu. Komikal yang paling menonjol dari lukisan ini adalah sapuan putih yang meliar. Yang memenuhi hampir seluruh bidang kanvas. Sedangkan di atas kepala lelaki itu, ada lingkaran (yang barangkali bulan, barangkali juga matahari) mengambang sekaligus goyah. Goyah tetapi tetap ingin bertengger di sana.

2. Suara Mereka Pun Sama
Suara Mereka Pun Sama adalah sebuah judul lukisan Kris Adji AW yang kedua. Dalam lukisan yang kedua ini pun berobjek manusia. Manusia yang dijadikan objek adalah perempuan. Perempuan yang rambutnya memanjang menebar di sebuah tempat dengan sebuah bukit gersang yang mengabur di bagian belakangnya. Dan tidak seperti di lukisan yang pertama yang komikalnya dibentuk dari sapuan putih yang meliar, lukisan yang kudua ini justru dibentuk dari sapuan hitam. Sapuan hitam yang entah berasal dari rambut si objek, atau dari sekian goresan yang telah digoreskannya di tanah. Tanah putih, tanah yang sepertinya berbau kematian dan kemampatan.

3. Komikal Kesedihan
Dari dua lukisan itu, Kris Adji AW memang
Ingin menampilkan sebuah persoalan dari apa yang telah menimpa di objeknya. Persoalan itu sepertinya telah tiba/ datang/ tak tertolak. Dan si objek pun Cuma merasakan apa persoalan itu bisa teratasikah? Dan dari pertanyaan yang tak terjawab ini, maka tak heran jika dari dua kanvas itu selalu muncul sekian goresan yang kasar, tiba-tiba seperti belum selesai dan warnanya demikian menyala. Demikian menyala seperti lampu terakhir sebuah kapal yang akan tenggelam. Setelah mengirimkan sandi SOS…

( MARDILUHUNG – Penyair, tinggal di Gresik)

Henri Nurcahyo : TARIAN GELISAH KRIS AW

Kris AW sedang gelisah. Ini terbaca dari karya-karya terakhirnya yang banyak merekam denyut nadi sosial politik di sekitarnya. Namun ia tidak marah. Tidak protes. Juga tidak melawan secara verbal. Sapuan-sapuan kuasnya, pilihan warnanya, serta alunan gerak obyeknya, menunjukkan semangat membuncah untuk mengekspresikan sesuatu dari dalam dirinya.
Lelaki kurus itu, tanpa baju, berambut panjang, sedang memainkan gerak-gerak tangannya secara amat ekspresif. Ia meliuk-liukkan tubuhnya seakan mencoba bertahan dari serbuan angin yang tak jelas maunya. Matahari sedang membara. Lelaki itu sedang menari. Ia seperti hendak menunjukkan apa yang tengah terjadi dalam jiwanya. Ia ingin berkata-kata, ingin menyampaikan sesuatu, tentang segala nestapa yang terus menerus menimpa bumi ini. Bencana demi bencana seakan tak pernah berhenti menyapa.



Ada Tsunami di Aceh, gempa di Yogyakarta, ada bencana dimana-mana. Banyak ibu yang kehilangan anaknya, ditelan ombak yang membuncah. Banyak anak yang kehilangan ibunya. Betapa kasih sayang ibu dan anak bagaikan dua sisi mata uang yang sama, seperti jantung dan paru-paru, seperti sepasang ginjal, atau seperti urat dan darah. Sedemikian menyatunya ibu dan anak, keduanya pun tetap berdekapan ketika tewas diterjang gelombang Tsunami. Ada juga remaja yang sesenggukan di tengah malam yang galau. Ada remaja memandang bulan yang terlihat bagaikan gumpa lan darah. Sementara di bagian lain di negeri ini, ada yang ribut-ribut justru soal bokong. Duh Gusti, negeri seperti apakah negeriku ini?
Lelaki itu menari. Ia terus menarikan gejolak jiwanya. Dia percaya, bahwa tarian adalah gerak ritmis dinamis yang hakikatnya merupakan ungkapan ekspresi jiwa. Lewat tari dapat diungkapkan kebahagiaan, keserakahan atau mungkin renungan hidup sampai dengan ekspresi persembahan kepada Tuhan yang Maha Perkasa. Ia menari untuk menunjukkan ada yang selalu bertentangan dalam satu kebersamaan, bagaikan hitam yang menjadi bermakna ketika bersanding putih. Bagaikan putih yang menjadi semakin kentara ketika bersanding hitam. Hitam dan putih, adalah sebuah keseimbangan dalam hidup ini. Dua hal yang saling bertentangan, namun sesungguhnya saling menegaskan.
Kris memang seorang pelukis, meski dunia seni rupa dia geluti tidak sesempit batas kanvas. Dia seorang organisator, seorang aktivis kesenian, meski juga bukan sesempit seni rupa. Bahkan, aktivitas keseniannya malah bermula dari musik, ketika bermain dalam konser rakyat Kentrung Rock sebelum tahun 1980-an dulu. Tapi Kris juga menulis puisi. Itulah sebabnya naluri sastranya seakan tak kuasa ia bendung ketika berhadapan dengan kanvas, dan ia merasa perlu harus menuliskan sesuatu di lukisannya. Jadilah puisi dalam lukisan.
Menyimak karya-karya terakhirnya ini, memang terlihat jelas kegelisahan itu. Barangkali ini ada hubungannya dengan situasi sosial politik yang terus menerus menggejolak di era transisi ini. Sebuah era ketika orang dengan mudah dan cepat menjadi politikus, menjadi elit partai, bahkan menjadi penguasa daerah. Dan juga, dengan mudah dan cepat orang menjadi kaya. Dalam situasi seperti itulah maka sangat rawan terjadi penyimpangan moral, ada dekadensi, ada nurani yang tercabik-cabik, bahkan sedemikian mudah orang melecehkan etika, bahkan juga hukum. Hipokrisi berkembang dengan suburnya.
Apa yang sedang nampak di mata, seakan-akan sulit dipercaya sebagai sebuah realitas sejati. Ada realitas lain yang harus dicermati. Realitas di balik tangan, realitas di balik punggung, realitas yang bermakna ganda. Dalam dunia serba ambivalen itulah seorang Kris kini sedang berada. Hatinya berkecamuk dengan pertentangan-pertentangan antara hitam dan putih. Gejolak jiwanya membutuhkan katarsis. Kris, bukan lagi harus dipahami semata-mata sebagai seorang Guru Gambar di sebuah SMA. Kris adalah lelaki yang mewakili jamannya. Jaman yang makin edan sekarang ini.
Bandingkan dengan karya-karya sebelumnya. Karya yang lembut, yang ngelangut, dengan warna-warna yang gradatif. Tema-tema yang dipilihnya pun cenderung surealistis. Anak-anak kecil mengendarai kelompen menuju langit, anak-anak kecil yang bermain akrab, layang-layang, berkejar-kejaran atau bermain ular naga di sela-sela awan. Atau juga betapa imajinatifnya Kris menggambarkan anak-anak mengendarai capung raksasa, bermain di alam terbuka, atau juga betapa mengasyikkan mereka memainkan pelangi menjadi sebuah ayunan. Betapa langit dan udara terbuka, seakan-akan memang menjadi milik anak-anak. Sebuah penggambaran yang satiris, ketika dalam realita anak-anak memang tak lagi menemukan tempat bermain di kampung mereka.

Tetapi yang terjadi kemudian, ada semacam gejolak yang tak tertahankan untuk segera disuarakan di jaman yang cepat berubah sekarang ini. Kris mempelopori gambar dinding (mural) di sekolah tempatnya mengajar. Dia juga terlibat dalam revitalisasi kesenian rakyat yang nyaris punah. Semuanya itu dia lakukan ketika dalam dua tiga tahun belakangan ini dia memang sempat kurang aktif terlibat pameran lukisan. Tapi sekarang, Kris mencoba bangkit menyuarakan gejolak jiwanya. Dia tak bisa berdiam diri terus menerus melihat segala macam tingkah anak manusia yang terjadi di sekitarnya. Orang-orang yang dulu teman sepermainannya, mereka yang dulu suka cangkruk minum kopi bersamanya, kini menjadi pemain “akrobat” yang jumpalitan tak tentu arah. Kris AW gelisah. Kegelisahan itulah yang dia tumpahkan ke atas kanvasnya sekarang ini.
Meski demikian. Tidak ada rasa benci sedikitpun terhadap negeri yang compang camping ini. Kris tetap menjadi anak negeri yang baik, yang tetap mencintai negerinya meski sudah terkoyak-koyak. Ia tetap menari, setidaknya kali ini memilih tarian dalam lukisan, sebagai simbolisasi permasalahan sekitar, makro dan mikro, yang abstrak maupun yang realis, masalah sosial maupun yang religius, bahkan mungkin (katanya) sebagai isyarat masa depan.
Begitulah, langkah sudah diayunkan. Pilihan sudah ditetapkan. Kris AW kini sedang menempuh perjalanan di jalan yang ia rintis sendiri. Sebuah jalan yang tidak pernah sepi, justru ketika Kris merasa sendiri. Sebuah jalan yang terasa sunyi, ketika Kris menganggap banyak masalah yang bergemuruh.
 Henri Nurcahyo, penulis Kesenian tinggal di Sidoarjo. Lahir di Lamongan, 22 Januari 1959. Pernah mendirikan dan aktif di sejumlah LSM dan sekian banyak kepanitiaan kegiatan kesenian lainnya. Tahun 2001 memperoleh Penghargaan Seniman Jatim dari Gubernur.

Riadi Ngasiran : Catatan Sepenggal Perjalanan * Surat tentang Kris, Gerak dan Dinamika, dan Lain-lain

Hen, jam kerjamu memang kurang ajar.

Begitu lama kutak mampu menggerakkan tangan mengungkapkan perkenalan sosok pelukis dari kota Gresik, yang telah mengarungi perjalanan kreatif cukup panjang — setidaknya lebih 25 tahun hadir depan publik, tepatnya 1980 ia telah pameran di Gresik. Aku hanya mencerap sepenggal yang bisa kunikmati dalam proses pemaknaan bahasa lukis yang tersaji di sepanjang diamku. Diam ketika menikmati lagu gelombang, mengarungi lukisan-lukisan Kris Adji A.W., pelukis itu, menyimpan semangat. Ya, barangkali sebuah sepi gelombang dalam mengarungi diamnya.

Dalam sebuah momen kesendirian tiada kenikmatan tanpa memasuki ruang-ruang kontemplatif, menangkap gerak-berderak dari gelombang sebuah kesepian itu. Betapa kegairahan meluruhkan kegamangan, yang bagi insan kreatif, akan selalu menemukan jalan pijak atas pelbagai ikhtiar dalam mencari pemaknaan dirinya. Bukankah kesadaran paling hakiki dalam mengenal diri sendiri niscaya akan menemukan pintu kesadaran betapa di balik kerja kreatif itu terdapat kuasa kreativitas dari Sang Maha Kreator.


Meluruhkan ruang kosong kesendirian tidak serta-merta menangkap ilham. Sebuah ilham mustahil tercapai tanpa mela lui proses kerja atau, tepatnya barangkali, sebuah proses pembelajaran (process of learning). Ah, enaknya kita nikmati bersama larik-larik puisi ”Sungai dan Muara” penyair asal Cipasung, Acep Zamzam Noor: //Dalam kesepian yang sama. Kita menyalakan tungku di kamar/ Sambil membakar seluruh pakaian dan keyakinan kita Menjadi asap yang memenuhi ruang dan waktu/ Kita tak mengundang salju turun membasahi ranjang/ Tapi detik-detik menggenang dari cucuran keringat kita.// Seperti tengah berdialog dengan suasana ketika daun yang meluruh tiba-tiba dan membentuk ketakjuban alam semesta, memberikan puncak kesadaran pada yang sepi. Kita pinjam saja suasana itu, seperti kata Nina Minareli, dalam sajaknya "Aku Ingin Bertanya":

Tapi aku ingin bertanya lagi
Saat aku melukismu di bumi
Yang lain, memagari purnama
Dengan warna tembaga keyakinan
Pada dinding tua yang bisu.

Pemahaman tentang estetika yang kita kenal dalam seni rupa modern dunia memang menawarkan begitu banyak pilihan untuk dianut. Clive Bell, seorang pemikir dan filosof dari Inggris,menawarkan sebuah tesisnya yang terkenal bahwa pengalaman personal dan subjektif dari sang kreator atau seniman adalah sebagai sebuah pondasi dari penghayatan kita di dalam jagad kesenian. “All systems of aesthetics must be based on personal experience- that is to say, they must be subjective” (Clive Bell, Modern of Beauty and Style, Art [London: 1914]). Alhasil, mengapresiasi karya seni sebagai pengalaman estetis menjadi berbeda pada setiap individu. Setiap pemirsa sebuah pameran seni rupa, akan memiliki hak tafsir absolute untuk memahami keindahan dengan merujuk pada pengalaman-pengalaman internal si seniman atau pengalaman pribadi sendiri para apresian yang mungkin lebih intim dan tak terjelaskan secara logis, namun mampu dinikmati dalam ruang-privat batin.

Pendekatan subjektivitas ini, dalam paradigma Nietzsche (dalam bukunya The Birth of Tragedy) sebagai sebuah potret yang mewakili sifat dasar kesenian yang bisa dipahami dalam dua kutub: linieritas atau keteraturan dan ekspresivitas yang cenderung acak dan tak teratur. Lalu bagaimana dengan karya Kris Adji A.W. yang tengah mencoba mencuri perhatian publik? Pada karyanya berjudul Tarian Jiwa III, misalnya, ditampilkan seorang perempuan seolah diterpa dahsyatnya badai, rambut menjurai menandai gerak tubuh sang penari, dilatari rembulan dalam pusaran langit kelam. Selintas saya membayangkan: mengalir seperti air, luwes menembus ke mana-mana seperti angin, dan lunak seperti kapas. Demikianlah yang dikesankan oleh taichi, sejenis seni bela diri di negeri leluhurmu, jauh di daratan China. Awam melihatnya seperti tarian yang indah, yang gerakannya lambat dan tak berkeputusan, namun ternyata mengandung tenaga tersembunyi seperti gampang dilihat di film-film kungfu. Tarian itu, juga di dalam novel-novel silat yang populer di Indonesia, selalu digambarkan betapa justru kelembutannya yang mampu mengalahkan kekerasan.

Adakah kita temukan kesan mencekam dalam figur penari yang dihadirkan di situ? Memang terdapat kesan paradoks: gerak tarian yang lembut digarap dengan goresan yang keras terasa
kurang intens, menggoreskan bahan warna di kanvas, sehingga jauh dari suasana sublim. Kenyataan ini berbeda dengan karya Ju Ming, seniman kelahiran Taiwan tahun 1938, yang begitu memesona dalam patungnya. Bagaimana caranya dengan bahan sekeras dan sekasar batu kita menggambarkan sesuatu yang "mengalir, luwes, dan lunak, namun menyimpan tenaga"? Ju Ming telah menjawabnya dengan serangkaian patung bertema taichi yang mencengangkan. Taichi, baginya, bukan lagi sekadar gerak, sekadar seni bela diri, tetapi tampaknya menyuruk pada renungan tentang paradoks yang disediakan oleh alam.

Sepintas saya pun merasakan betapa goresan yang dihadirkan Kris Adji AW seperti kenyataan ekspresi yang dilakukan seseorang semasa kanak-kanak. Tapi, buru-buru saya harus mengoreksi kesan yang selintas itu. Saya seolah berada pada ruang yang menyesakkan untuk bicara, apalagi merenung lebih lama.

♦♦♦

Hen, Jam kerjamu rasanya memang kurang ajar.

Saya mencoba memahami betapa dalam dunia anak-anak, sikap-sikap subjektif, impulsif, polos, ekspresif dan menggebu-gebu, yang dikategorikan Nietzsche sebagai mewakili sifat-sifat Dyonisian. Sebuah term tentang karakter manusia purba yang memuja indikasi ke arah sifat-sifat ketidakteraturan atau di luar kendali diri seperti: suka menentang, merajuk, kasar, polos, naïf, acak dan sikap-sikap yang dinilai sebagai keliaran. Hasrat berperilaku instingtif yang demikian, sangat dekat dengan kejiwaan anak-anak dalam memahami realitas dunianya. Dalam kutub yang kutub yang lain, sebagai lawannya, bentuk kesenian yang berawal dari sifat keteraturan, objektif, logis, terkendali dan selalu sistematik sebagai ciri orang dewasa, menurut Nietzsche diwakili sepenuhnya oleh anasir jiwa Apollonian. Estetika yang bersumber dari subyektivitas jiwa anak-anak tadi, dalam sejarah seni rupa modern dunia juga dekat dengan pemikiran tentang ketidaksadaran (unconsciousness), baik personal ataupun kolektif sebagai akibat dari sistem represif atau tekanan secara terstruktur dalam masyarakat modern.

Adakah hal demikian terdapat pada Kris Adji A.W.? Saya menangkap ikhtiarnya untuk memaknai sebuah dinamika dan gerak hidup, belum beroleh jawaban yang pasti. Keragu-raguan untuk bercengkerama dan mencurahkan intepretasi begitu terbatas, hanya ketika menyaksikan peristiwa dramatik dalam kehidupan, seperti bencana alam, tsunami atau kepasrahan. Ah, ... kita pun harus tetap bergerak agar hidup tidak muspra tak hilang makna meski dera keterpurukan seolah tak pupus, silih berganti —janganlah gerak turut berhenti, seperti diingatkan Iqbal dalam sindirannya “berhenti adalah ambang kematian”.

Ihwal gerak sejak lama menjadi perhatian serius pelukis Italia, Giacomo Balla (lahir di Turin 18 Juli 1871 dan meninggal dunia di Roma, 1 Maret 1958) yang memperlihatkan secara abstrak yang mencerminkan pencarian musikalitas batinnya. Memang kita tidak menyaksikan secara jelas sosok anjing dalam Dynamism of a Dog on a Leash (1912, oil on canvas) atau burung terbang menawan dalam Flight of the Swallows (1913, tempera on paper). Tetapi, gerakan kaki hewan peliharaan itu seolah menghadirkan problem kreasi kecepatan irama yang menawan melalui citra yang sangat memperdaya; garis yang mengalun lewat burung-burung terbang berjajar penuh semangat dan repetitif. Gegaris itu lebih terasa bermakna gerak ketika Balla menyelesaikan karyanya yang lain, seperti Lines of Movement and Dynamic Succession (1913, tempera on paper) dengan persinggungan yang cukup kontras, gelap-cerah dan citra yang menghidupkan suasana. Karya-karya Giacomo Balla menunjukkan memikiran tentang dinamika masa depan secara dramatik dalam gaya melukis selanjutnya. Itulah partisipasi kreatif yang bisa kita nikmati hingga sekarang dalam pemaknaan citra gerak yang dinamis lewat lukisan.

♦♦♦

Hen, kekurangajaranmu membuatku bergerak dengan paksaan.

Sekadar mengingatkan, betapa para pelukis kesohor dunia juga meniru konsep mengenai tercampaknya kendali nalar, dan sepenuhnya menyerahkan pada sensorik bawah sadar subjektif si seniman dalam proses berkarya hingga dianggap menghasilkan karya yang lebih murni dan jujur. Dunia wadak, pada akhirnya direinterpretasi sebagai sebuah realitas estetik dalam wujudnya yang menyerupai dunia asing semacam ruang fantasi dan mimpi yang lebih bebas, terbuka dan imajinatif. Dalam kerangka psikoanalisis, pemikiran-pemikiran tersebut telah merombak sejarah seni rupa menjadi sebuah gerakan yang populer disebut sebagai surealisme. Bila kita pahami yang demikian, barangkali pada karya-karya Lucia Hartini, perempuan pelukis kita, cukup kuat memberikan pijakan fantasi yang dahsyat dan imajinatif: betapa gerak tarian seorang perempuan sedahsyat gerak ombak di samudera lepas. Ia hadir secara mengejutkan dan menegangkan —sebuah inner action yang menggelora yang segar dinikmati.

Sementara, subjektivitas dalam perspektif yang lain, dalam kosmos jiwa anak-anak juga diterjemahkan sebagai sebuah kehendak bebas dari sifat ego terpendam yang membutuhkan katarsis dan out let dalam berekspresi. Kemunculan aliran naïf setidaknya memiliki juga gejala kemiripan dengan pola yang semacam dengan itu. Bilaningsih, perempuan pelukis Surabaya, agaknya yang telah meletakkan konsep demikian dalam lukisan-lukisannya. Ditandai dengan sifat-sifat karya seni yang dekat dengan karakter anak-anak. Bisa disederhanakan dengan cirinya: lugas dan tak terikat oleh pakem-pakem tertentu. Atau, dalam perbandingan lain, merujuk pada lukisan-lukisan dan kaligrafi tertentu yang banyak sekali ditemukan dalam artefak kuno, daun lontar atau lukisan di gua-gua primitif dalam sejarah peradaban tua manusia. Kita bisa mengenalnya di dalam karya lukisan modern yang hendak menirunya dengan motif yang sangat internalistik sekali: coretan-coretan abstraktif atau figuratif bergaris tebal dan bergaya asimeterik serta warna-warna yang mencolok dan tidak harmonis dalam bentuk.

♦♦♦

Hen, masihkah kau memperlakukan jam kerjamu yang kurang ajar?

Dalam suasana gerak diam Tarian Jiwa-nya, Kris Adji A.W. menawarkan suasana yang paradoks dari tema sebelum itu. Jiwa yang terus bergerak, bukankah di dalamnya menyimpan
luapan harapan, optimisme, dan kemenangan? Dalam Tarian Bencana I, dan Tarian Bencana II yang inspirasinya dipetik dari bencana gempa bumi di Yogyakarta (dalam istilah Kris, ”Dari Yogya Kulihat Duka”) tarian itu bergeser menjadi harapan yang melemah. Suasana murung (atau mungkin merenung?) pada sosok lelaki yang diam, justru ketika menyaksikan kenyataan suasana alam yang mengelilinginya. Ketika angin berada di pusaran matahari (atau mungkin bulan) di awan biru, sosok lelaki justru merasakan kepedihan dan menumpangkan wajahnya di tangan yang bersilang di lutut (Nyanyian Malam II) atau dengan tubuh yang ringkih, sesosok lelaki menyaksikan pemandangan kelam, hitam-memerah-keabuan (Nyanyian Malam I).

Begitulah, kenyataan memang tak seindah harapan tapi, di situlah sesungguhnya kita tertantang, seharusnya meletakkan erat-erat harapan akan saat-saat yang kelak akan mencerahkan. Dalam kata-kata Goenawan Mohamad: //Ada panji sehabis perang, di Merapi, seputih mori, ketika Maut melemparkan sabitnya ke danau, dan padang perburuan pun menunggu sampai seorang anak menemukan sabit itu dan meletakkannya di atas pasir, dan tak seorang pun peduli// (”Tentang Optimisme”).

Tarian adalah sebuah metafora yang dipinjam Kris Adji A.W. Ini berbeda dengan Bagong Kussudiardjo (almarhum) yang juga dikenal sebagai penata tari, ketika melukis pun tak melepaskan objek tarian. Sejumlah karyanya yang terbilang tua, seperti Penari Baris (1999) salah satu yang harus disebut. Sekelompok penari yang digambarkan dengan warna kulit hitam legam-menjadi mencolok di dalam serangkaian karya lain, warna kulit sosok-sosoknya lebih terang atau lunak-beraksi di dalam gerak tari bersama. Latar warna kesumba, coklat susu, dan di bagian atas kebiruan, serta berbagai warna menyolok di bagian dada, menyangatkan misteri yang muncul dari wajah para penari. Mereka sebenarnya tak berwajah, karena hanya berupa sapuan warna (umumnya) putih keabuan, tanpa ada tanda-tanda yang mengisyaratkan mata, hidung, bibir, dan seterusnya. Ya, para penari tak berwajah sangat sering muncul di dalam taferil Bagong pada lukisan-lukisannya dekade terakhir. Ada yang muncul dengan bagian-bagian kostum cukup terinci seperti dalam Dua Penari Bali (1999), namun banyak lainnya yang memang merupakan bagian dari laku penyederhanaannya. Bagong Kussudiardjo memang penari, sedang Kris Adji A.W. adalah seorang guru di sebuah SMA di Gresik, menempuh pendidikan seni rupa di perguruan tinggi di Surabaya. Begitulah Kris Adji A.W. kemudian mengajar, berkesenian, melukis dan memamerkannya ke publik.

♦♦♦

Hen, kekurangajaran jam kerjamu lalu menyadarkanku.

Tiba-tiba saya menyadari, bukan Kris Adji A.W. sesungguhnya lebih memasuki wilayah yang begitu suntuk digelutinya dalam hidup sehari-hari, sebagai guru. Saya harus angkat topi atas usaha-usahanya ketika membukakan ruang-ruang bagi siswa-siswinya akan kesadaran apresiasi terhadap kesenian. Saya menyadari bahwa minat remaja akan seni dan budaya sangat, tergantung dari pendidikan dan tingkat pendidikan orang tuanya.

Kesimpulan ini pertama kalinya diketahui dari hasil studi Barometer Budaya Remaja, yang diumumkan kementerian pendidikan Jerman baru-baru ini di Bonn. Dari jajak pendapat dalam rangka studi tersebut lebih dari 2600 remaja yang berusia antara 14 sampai 24 tahun di seluruh Jerman terlibat dalam jajak pendapat sehubungan studi tersebut. Mereka ditanya tentang minat di bidang budaya dan kegiatan budaya yang dilakukannya masing-masing. Selain itu lebih dari 1000 orang tua yang memiliki anak di bawah usia 25 tahun juga dilibatkan dalam penelitian ini. Minat budaya remaja Jerman yang berusia antara 14 sampai 24 tahun tidak berkurang, malahan lebih bervariasi ketimbang dulu. Memang musik beraliran HipHop, Techno dan Pop menjadi kegemaran utama. Itu sudah menjadi bagian kehidupan sehari-hari. Namun musik klasik juga mendapat tempat di lingkungan remaja. Eminem, Britney Spears dan Robbie Williams adalah urutan teratas idola remaja Jerman.

Seniman seperti Pablo Picasso, Salvador Dali dan Van Gogh juga mendapat tempat dalam kehidupan budaya para remaja. Sementara itu pertunjukan seni budaya klasik seperti opera, teater dan konser yang di kenal dengan harga tiketnya yang mahal, masih enjadi penghalang minat budaya para remaja. Tawaran yang sesuai untuk ukuran remaja masih kurang. Semakin dini anak-anak atau remaja mengenal seni dan budaya, semakin berpengaruh positif bagi minat budayanya di kemudian hari. Yang juga menentukan adalah tingkat pendidikan orang tua dan pengaruh dari teman-temannya. Barometer budaya remaja berhasil menunjukkan pengaruh timbal balik antara aktivitas pendidikan dan penawaran budaya. Remaja yang terlibat aktif dan sering berhubungan dengan budaya, di waktu senggangnya lebih banyak membaca dan lebih terbuka terhadap seni dari budaya asing.

Sekolah memegang peranan penting. Meskipun demikian terbukti tidak terdapat kesempatan merata dalam pendidikan budaya. Sekolah-sekolah di kawasan pemukiman yang baik lebih banyak menawarkan aktivitas budaya dibanding sekolah-sekolah di kawasan sosial yang lemah. Maka, akhirnya saya harus meletakkan rasa hormatku pada kalian, kaum pendidik, yang dalam proses kreasi berkesenian juga bersentuhan langsung dengan mereka, para remaja yang berada di usia sekolah. Di sinilah, kehadiran Kris Adji A.W. terasa penting dalam mengiringi proses kesadaran apresiasi mereka.

Adalah penting mencerahkan dan memperhalus budi lewat institusi keagamaan atau pendidikan di keluarga dan sekolah. Di luar itu, ikhtiar memperhalus budi bangsa adalah mengembalikan seniman dan kesenian dalam pentas kehidupan publik. Kecenderungan sekarang, kapitalisme mendesak kesenian. Masyarakat kian materialistis dan konsumtif. Ruang publik miskin dengan kata-kata yang mencerahkan dan mencerdaskan. Kecenderungan itu harus diimbangi dengan penghalusan budi dengan membangun masyarakat yang menghargai penyair, pelukis dan seniman lainnya. Di sinilah apa yang dimaksudkan Yonky Karman, seorang pengajar Sekolah Tinggi Teologi Cipanas, sebagai “merekayasa budi bangsa”. Ia mengingatakan kita pada katga-kata di pusara penyair Gabriela Mistral (1889-1957), pemenang Nobel Kesusastraan 1945: ”Bagai jiwa untuk badan, begitu juga seniman untuk rakyatnya”.

Hen, dengan jam kerjamu yang kurang ajar, makin memberikan peluang bagiku tersadar: betapa diam tidak selalu menyimpan kemandekan. Gelora dan optimistis menjalani kenyataan terkadang bisa ditumbuhkan dalam diam. Biar pun kesadaran itu menghidupkan kembali mimpi-mimpi. Ia nyatanya ada meski terasa begitu jauh. Dan bukankah revolusi kesadaran pun muncul seolah lolongan anjing di padang pasir, yang kemudian menggerakan Khomeini dalam pusaran sejarah di abad silam?. ♦

Surabaya, 09 November 2006 (02:42)
Salamku.

========
NB:
a. Saya menggunakan sapaan Hen untuk penyair Mardi Luhung, dengan manuskrip puisinya ”Jam Kerjaku yang Kurang Ajar”. Sebagai guru dikenal dengan Pak Hendry.
b. Sekadar pengayaan imajinasi dari pelukis lain, saya coba sertakan tiga karya Giacomo Balla (lahir di Torino 1871 — meninggal di Roma 1958)

 Riadi Ngasiran, penulis kesenian, wartawan Harian DUTA Masyarakat, pengurus KSRB. Tinggal di Surabaya.

CHUSNUL CAHYADI Lakukan Perenungan Setahun, Gores kanvas Cukup Sejam

RUMAH di Jl. Usman Sadar terlihat begitu sesak aneka lukisan. Jumlahnya mungkin
ratusan. Saking banyaknya, sehingga pelukis lulusan IKIP Surabaya ini harus
menumpuk-numpuk hasil karyanya. Beberapa hasil karyanya sempat dikrikiti tikus
sehingga terpaksa dibakar.



Kini, yang terpajang di lantai satu dalam rumah sekaligus galeri lukisan hanya
hasil karya terbarunya. Ada beberapa lukisan yang cukup mencolok. Diantaranya,
sebuah pigura berukuran 100 X 120 sentimeter yang berisi lukisan sosok ibu sedang
mengendong anaknya.
Lukisan ini diberinama "Kasih Ibu". Juga dijumpai, lukisan seorang pria sedang
menari tanpa mengenakan baju. Pria berambut gondrong dalam bingkai lukisan itu
hanya diberi warna hitan dan putih. Goresan tangan pelukis beraliran ekspresif
surealisme ini diberit titel "Tarian Hitam Putih".
Kesan sangat kontras begitu terasa ketika awal memasuk rumah Kris yang dingin
karena berdinding tembok setinggi 7 meter dan beratap triplek itu.
Kasih Ibu, hasil renungan selama setahun lebih. Lukisan itu, terang Ketua Bidang
Pendidikan dan Pengembangan Dewan Kesenian Gresik (DKG) ini, mencoba menggambarkan
perjuangan seorang ibu melindungi anaknya dari amuk gelombang tsunami. Meski
akhirnya keduanya harus meninggal secara berdekapan. Makna dan proses kontemplasi
yang menyertai proses penciptaan sebuah karya. "Saya bisa melukis dalam waktu satu
jam. Tapi kontemplasinya bisa setahun,"terangnya.
"Dan setiap saya melukis, pasti berisi kritik sosial masyarakat di sekitar saya,"
tambah pria yang juga guru kesenian di SMA Nahdlatul Ulama 1 Gresik ini. Bagi,
Kris Adji, dunia seni rupa di Gresik tidak ramah, karena tidak ada galeri atau
gedung kesenian. Sebab, kepedulian pemerintah terhadap kesenian minim. Sehingga,
banyak pelukis di Kota Industri Gresik berjuang sendiri.
Sejak 1980 mulai berkarya. Berbagai pameran baik secara bersama-sama atau tunggal
di pelbagai gedung kesenian di Surabaya, Jakarta, Jogjakarta maupun seputar Jawa Timur pun telah
dirambahnya. Kali pertama dia pameran tunggal di Gresik pada 1986, kemudian 1988 dan
rencananya, pada November nanti kembali mengelar pameran kali ketiga di gedung
Dewan Kesenian Surabaya (DKS).
"Mungkin ada 20 lukisan yang akan saya bawa. Karena memang kapasitas DKS hanya
segitu,"ujar pelukis yang menolak menggelar lukisan di mal-mal maupun plasa ini.
"Lukisan saya nanti semuanya beraliran ekspresif surealisme,"katanya. Aliran ini
muncul seiring bertambah usia dan kondisi sosial masyarakat Indonesia saat ini.
Rentang waktu 26 tahun, telah mengubah dia berganti menganut aliran melukis,
seperti abstrak dan surialisme. Sebab, melukis bagi guru SMA NU Gresik ini,
merupakah sebuah ibadah untuk mengkritik semua kebobrokan kemanusiaan yang kini
menggejala di bumi Indonesia.
Tak heran jika dalam setiap karya di atas kanvas terinspirasi oleh lingkungannya.
Ia menconntohkan karya Tarian Jiwa yang mennggambarkan orang kecil (wong cilik)
yang berusaha menikmati hidupnya di tengah keterpurukan. "Bagi rakyat kecil,
penderitaan dan kebahagiaan itu kan sangat tipis pembatasnya. Kadang sama saja,"
tutur lulusan IKIP Surabaya jurusan seni rupa ini.
Beberapa lukisannya yang menggambarkan kehidupan masyarakat bawah adalah, Tarian
Hitam Putih, Suara Merekapun Sama, Kasih Ibu dan beberapa lainnya. Pandangannya
tentang melukis adalah beribadah itulah yang menjadikan setiap lukisannya
mempunyai makna kritik sosial. Ia tidak mempedulikan orang lain akan mendengarkan
"jeritannya" melalui karyanya atau tidak. Karena ia berharap nilai-nilai
kebersamaan dan memegang prinsip seperti seperti yang ditunjukkan saat anak-anak
bermain bisa ditularkan kepada yang dewasa. "Saya berpikir yang penting saya
peduli pada mereka," lanjut dia.
17 Mei 2006
 Chusnul Cahyadi, lahir di Gresik, 11 September 1970. memulai karir di Jateng Pos (1989), Radar Solo (Grup Jawa Pos) tahun 1990-2003 dan sekarang bertugas di Jawa Pos sejak tahun 2004-sekarang.

Ashadi : PESAN ANTI KORUPSI DALAM GORESAN KRIS ADJI, PELUKIS HITAM PUTIH GRESIK

Status sosial yang hanya pelukis menjadikan Kris Adji AW tak mampu menyuarakan kegelisahannya tentang korupsi lewat action. Jadilah pergulatannya itu tertuang dalam kanvas.
AKHIR November nanti, Kris Adji AW, pelukis Gresik, berpameran tunggal di tiga kota, Surabaya, Bandung dan Gresik. Karya yang dipamerkan nanti lebih banyak bernuansa kritik tentang menjamurnya korupsi.



SINDO, kemarin malam, bertandang kerumah pelukis hitam putih ini. Rumah Kris di Jln. Usman Sadar, kelurahan Sukorame, Kec. Gresik, ini tak ubahnya galeri. Hamper disetiap sudut ruang, dipenuhi lukisan berbagai ukuran. Di dinding tengah tepampang dua lukisan, yang satu seorang perempuan membawa keranjang, disampingnya kaligrafi ayat kursi.
Tembok paling kanan bertumpuk-tumpuk kanvas yang sudah rampung “digarap”. Lukisan Kris didominasi warna hitam putih dengan tampilan sesosok yang beramput panjang dengan nerbagai pose. Setidaknya ada empat pose yang terlihat menonjol;. Berdiri paling dalam dekat pintu ruang tengah, lukisan seseorang berambut panjang menggerakkan badan dan tangannya dengan diikuti angin. Seolah sosok lukisan itu melakukan gerakan jurus silat Cina, Tai Chi.
Disampingnya, terlihat sosok manusia dengan mata tertutup dan tangan diletakkan didahi. Kris pun menyebutnya sebagai tarian koruptor. Agak kedepan, lagi-lagi sosok yang sama, bedanya dia menggendong kursi yang disebut Kris sebagai seseorang yang takut kehilangan kekuasaannya.
“Inilah lukisan-lukisan yang akan saya pamerkan. Didominasi tarian yang merupakan ungkapan akumulasi kegelisahan. Makanya saya mengambil tema The Dance In Trance, yang kurang lebih makna harfiahnya tarian kegelisahan,“ terang Kris yang alumnus seni IKIP Surabaya (kini UNESA) itu.
Masih banyak karya lain yang bakal dipamerkan di Galeri Surabaya Jln. Pemuda. Ada Negeriku Bokong yang diilhami polemic pro kontra pornoaksi dan pornografi. Ada Kasih Ibu, dan Suara Merekapun Sama yang menggambarkan penderitaan korban Tsunami Aceh.
Lukisan itu menonjolkan warna hitam dan putih. Sosoknya juga sama, seseorang yang rambut panjang dengan bertelanjang dada. Namun, banyak dinilai kaya akan tema.
Menurut HU Mardiluhung, koleganya yang penyair ini, bagi orang tidak kenal Kris maka lukisan Kris akan dinilai sebagai lukisan orang yang masih belajar. Sebab disitu terlihat bagaimana goresannya memperlihatkan keluguannya.
“Lukisannya berubah-ubah. Dia mencari jati dirinya. Awalnya dia melukis gaya realis, kemudian abstrak, terus lukisan fantasi. Namun sekarang lebih keekspresif dengan kritik social yang tajam,” terangnya.
Diakui atau tidak, lukisan-lukisan tersebut memang merupakan ekspresi bagaimana pria kelahiran Gresik 1961 itu gelisah akan jatidirinya. Sementara lingkungan dia tempat bergaul begitu antusiasnya bercerita tentang kemapanan dibidang politik. Kris pun mengakuinya.
Untuk membuat lukisan-lukisan berbau kritik itu, Kris mengaku perlu perenungan yang panjang. Terkadang perenungan itu merupakan kelanjutan dari perenungan masa lalunya. Kemudian disatukan dengan yang dialami saat ini.
“ Lukisan Tarian Koruptor saat itu terinspirasi ketika saya melihat orang-orang sekitar yang terus mendengungkan anti korupsi, namun ternyata dia (pelaku yang dilukis) seorang koruptor. Bahkan, sekarang pun pemberantasan korupsi hanya sekedar lipstick saja,” katanya.
 Ashadi IK, dilahirkan di desa Wadak Kidul Kecamatan Duduk Sampeyan Gresik. Alumni UNMUH Gresik, sebagai jurnalis pernah bekerja di Harian Surabaya Post & Nusa Bali dan sekarang di Harian SINDO
(Tulisan ini pernah dimuat di Harian SINDO, 15 November 2006)

Ashadi IK : SINDIR INDONESIA LEWAT JELANGKUNG MAIN BOLA (SMA Nusa Gresik merekrontruksi Imajinasi Dalam Seni Instalasi)

Dalam tiga hari, 18 ruang SMA Nahdlatul Ulama 1 (SMA Nusa) disulap menjadi seni intalasi kelas oleh siswanya. Peristiwa tersebut kedua di Gresik, setelah tahun 1999, instalator Syaiful Hadjar menutup kampus Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) bertema kekerasan TNI di Aceh.
Lampu remang-remang, serakan daun di lantai dan kain warna gelap mewarnai dekorasinya di setiap ruang. Semakin menarik tatkala lukisan dan aneka souvenir karya siswa selama setahun dipajang di antara instalasi tersebut.
Upaya merekonstruksi hasil imaji siswa-siswa SMA Nusa menjadi realitas dalam ruang publik cukup menarik disimak. Selain mengisi waktu luang menjelang liburan dan merupakan realisasi pendidikan berbasis kompetensi, ternyata karya instalasi yang disebut oleh Kris Adji AW, sang kreator sekaligus guru, sebagai instalasi kelas untuk mencari bibit peseniman muda.


Meski hasilnya jauh dari harapan, namun karya-karya tersebut dapat dinilai luar biasa, setidaknya untuk pemula. “Lumayanlah untuk karya pemula,” ujar HU Mardiluhung, budayawan Gresik yang juga guru seni SMA Nusa.
Ada kapal Titanic di ruang Kelas 10 H. Miniatur kapal pesiar yang tenggelam di Samudra Atlantik tersebut terbuat dari stik es krim. Beda lagi di Kelas 10 B, demam piala dunia Jerman lebih terasa. Pintu masuk kelas ditempel bendera Jerman, Korsel dan Tunisa. Teks-teks visual, poster dan pernak pernik sepak bola ditempel secara acak di ruang, menandakan bila kreatornya juga penggemar bola. Ruang Kelas 11 A-4 lain lagi. Ruang yang berada di lantai II itu disulap menjadi miniatur ruang hantu dengan jelangkung sebagai menu utama dan tengkorak kepala ditempelkan di tembok. Hanya nilai mistisnya menjadi hilang, karena jelangkung tersebut diberi kostum tim sepakbola. Ada yang berkostum Juventus (tim anggota Seri A Liga Italia), Jerman, Tim Orange Belanda dan juga Inter Milan (tim anggota Seri A Liga Italia). Jumlahnya pun sama dengan tim sepak bola yaitu sebelas. “Sengaja kami memasang jelangkung itu dengan jumlah sebelas, karena kami ibaratkan jelangkung main bola,” tutur Kris.
Lantas apa maknanya? Menurut dia, miniatur itu sebagia sebuah sindiran Indonesia. Indonesia ini penduduknya
banyak, tapi membentuk kesebelasan saja sulitnya bukan kepalang. “Sulitnya sama dengan Indonesia menjadi peserta piala dunia. Dan selamanya hanya angan-angan,” kata Kris sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Diakui, tema maupun makna dari karya yang ditampilkan siswanya belumnya terlihat. Mengingat, seni adalah sebuah kebiasaan. Karena itu dengan membiasakan siswa-siswa SMA Nusa dan SMA lain di Gresik mengenal seni tata ruang, display dan seni instalasi tersebut berharap dapat menelurkan peseniman baru.
Kami juga pernah membuat seni mural. Sekarang seni instalasi kelas dan tidak menutup kami akan membiasakan siswa-siswa mengenali ragam seni yang lain,” bebernya.
Ketua Bidang Seni OSIS SMA Nusa Gresik, Dicky Fadilah mengatakan, event tahunan itu bukan hanya konsumsi
internal. Tetapi, kalangan umum bisa dari SMA-SMA lain di Gresik dan juga komunitas pecinta seni Gresik dapat mengunjunginya.
“Sejak hari pertama banyak yang melihat. Ada dari SMA Negeri 1, SMA Semen Gresik dan lainya,” terang siswa
yang dibesarkan di Pongangan itu.
 Ashadi IK, dilahirkan di desa Wadak Kidul Kecamatan Duduk Sampeyan Gresik. Alumni UNMUH Gresik, sebagai jurnalis pernah bekerja di Harian Surabaya Post & Nusa Bali dan sekarang di Harian SINDO
(Tulisan ini pernah dimuat di Harian SINDO, 29 Juni 2006)


Musta’in : LUKISAN MURAL SISWA SMA NU I Bakal didaftarkan MURI

Layaknya pelukis sejati, sejumlah siswa SMA NU I Gresik terlihat tampak serius, saat menorehkan kuas di dinding ruang kelas sekolahnya. Sementara, sejumlah siswa lainnya, sedang sibuk mengaduk campuran cat tembok, di dinding pembatas halaman sekolah.
Tak jarang, sapuan kuas salah seorang siswa itu mengenai seragam temannya. Beberapa kelompok siswa lainnya, sedang menggambar sketsa di sudut-sudut tangga bangunan bertingkat tiga tersebut.


Itulah suasana yang terlihat beberapa hari terakhir, di SMA NU I Gresik, Jl. Raden
Santri Kecamatan Gresik. “Saya ingin melukiskan beragamnya karakter yang dimiliki manusia,” kata Nur Faizah, siswa kelas 2 yang melukis gambar manusia setengah abstrak, di depan ruang kelasnya, saat Surya melihat hasil lukisannya, Jumat (17/2) siang.
Siswa-siswa tersebut, sejak Senin (13/2) lalu, memang diminta oleh Kris Adji AW, guru seni rupa untuk melukis mural, seni lukis yang menggunakan tembok sebagai media lukisan. Setiap kelas, dibagi menjadi 6-9 kelompok. “Setiap anggota kelompok sebelumnya diminta membuat desain awal lukisan. Lukisan yang terbaik itulah yang bakal dilukis keroyokan,” imbuh Nur Faizah.
Sementara, hasil lukisan yang terbaik masih akan dipi lih lagi. “Lukisan yang paling baik akan dilukis ditembok halaman sekolah,” tambah Yedi Wahyudin, siswa kelas 2 lainnya.
Menurut Kris Adji AW, kegiatan tersebut merupakan tugas pelajaran seni rupa. “Selain itu, kami ingin menstimulasi siswa dengan kegiatan yang positif,” terang Kris Adji yang mengajar seni rupa di SMA NU I Gresik sejak 20 tahun silam.
Dipilihnya lukisan mural, karena selama ini, Kris melihat banyak tembok-tembok di sejumlah sudut kota Gresik terdapat coretan-coretan. Karena itu, Kris lalu meminta kepada siswa kelas 2 sebanyak 8 kelas untuk melukis mural. Namun tugas yang semula hanya untuk siswa kelas 2 itu akhirnya berkembang.
“Siswa kelas 1 dan 3 juga ingin melukis mural, sebab mereka juga ingin kelasnya tampil menawan dengan lukisan mural, “sambung Kris yang juga penggiat Dewan Kesenian Gresik ( DKG).
Maka melukis mural pun tak sekedar menjadi tugas seni rupa, namun kea rah persaingan antar kelas untuk saling menampilkan karya terbaiknya. “ Lihat saja sendiri mereka sangat antusias. Bahkan ada kelompok siswa yang tak puas dengan bahan cat tembok jatah sekolah, akhirnya mereka urunan membeli cat lagi,” tambah alumni Seni Rupa IKIP Surabaya ini dengan bangga.
Jika kegiatan ini berakhir, sebanyak 60 lukisan mural masing-masing berukuran 2x2 meter bakal dihasilkan 400 siswa tersebut. Rata-rata lukisan bercorak dekoratif, yang memadukan kombinasi bidang dan warna dengan nuansa hiasan. “ namun ada juga yang la in, misalnya lukisan kartun
ala Jepang,” cerita Kris Adji.
Satu lukisan, rata-rata diselesaikan minimal dua hari.” Sebab, siswa melukisnya di sela-sela pelajaran sekolah, “ kata Kris Adji.
Kegiatan ini, bagi Kris Adji, dianggap kegiatan lanhka di Indonesia. ”Saya masih belum mendengar , ada sekolah yang dihiasi dengan lukisan mural. Kalaupun ada, lukisan itu di garap oleh tukang. Namun, di SMA NU 1 Gresik, lukisan mural hasil karya semua siswanya,” imbuh Kris Adji.
Karena itu, Kris Adji berobsesi kegiatan ini bakal tercatat di Musium Rekor Indonesia (MURI). “ Kami bakal mendaftarkan kegiatan ini ke MURI,” pungkas Kris Adji AW.
 Musta’in, lahir di Lamongan, 17 Oktober 1976. Lukisan SMA Assaadah Bungah ini tercatat sebagai mahasiswa semester akhir fakultas Psikologi UNMUH Gresik dan wartawan Harian SURYA.
(Tulisan ini pernah dimuat di Harian SURYA, 18 Februari 2006)


Musta’in : KEGELISAHAN BERKEPANJANGAN SEORANG KRIS ADJI

Tidak ada kata akhir dalam sebuah proses berkarya. Demikian juga yang dialami pelukis asal Gresik, Kris Adji AW. Sebagai seorang seniman, Kris merekam dan memotret realitas, terutama sosial-politik, kedalam goresan kanvas untuk dijadikan sebuah lukisan.
Realitas itu tak terlalu muluk digambarkannya. Bahkan begitu mudah, cukup dengan symbol-simbol yang sederhana. Apalagi, saat Kris banyak bergaul dengan berbagai kalangan termasuk para elite politik ditempat tinggalnya


“ Jujur saya akui, pergaulan saya dengan teman-teman anggota Dewan, yang notabene adalah para politikus, juga membawa inspirasi bagi lukisan saya,” kata Kris, ditemui digaleri seni sekaligus rumahnya, di Jln Usman Sadar, Selasa (14/11).
Tak heran, lalu muncullah karyanya yang berjudul The Dance In Power yang menggambarkan seseorang tengah melayang, sembari memannggul sebuah kursi dibelakang punggungnya.
“ Secara sederhana saya ingin mengatakan, itulah perilaku pejabat yang terus mempertahankan kursi kekuasaannya dan akan selalu melindungi agar kursi itu tidak hilang begitu saja,” ungkap pelukis yang aktif berkesenian sejak SMA, tahun 1977.
Masalah sosial yang terjadi disekitarnya, seperti penggusuran pedagang kaki lima (PKL) oleh satpol PP dengan dalih penertiban, juga diabadikan Kris melalui lukisan yang diber judul Tarian Keranjang Kosong.
Lukisan itu, menggambarkan seseorang yang tengah mendekat erat keranjang didadanya meski tanpa isi. ‘Lihat saja, rata-rata PKL yang terkena operasi pebnertiban dan gerobaknya disita terkadang gerobak itu sudah tanpa isi,” ungkap salah satu penggagas berdirinya Dewan Kesenian Gresik (DKG) tahun 1984.
Bagi Kris, sebuah kegelisahan itu akan terus ada, menggeliat saat melihat ketimpangan, ketidakadilan, dan hal-hal yang berbau paradoks. Kegelisahan akan selalu menari-nari mencapai puncak ekstase, larut diantara alam sadar dan alam tak sadar.
Lewat lukisan diatas kanvas berbahan cat akrilik, Kris hanya menyampaikan apa yang dilihat, dialami dan dirasakannya. Untuk sebuah solusi atas fenomena yang dilukisnya, kata Kris, biar hati nurani yang menjawabnya.
Salah satu bentuk pengungkapan kegelisahannya yang sedemikian menderu, Kris berencana akan gelar pameran tunggal 20 lukisannya di Surabaya, Bandung dan Gresik dengan satu tema The Dance In Trance.
Di Surabaya, Kris akan pameran di Galeri Surabaya Dewan Kesenian Surabaya (DKS), 20 – 26 November. Setelah itu dilanjutkan di Bandung, Januari dan berakhir di Gresik Maret 2007.
“Secara harfiah, judul pameran itu tarian jiwa. Namun lewat judul itu, saya ingin menyampaikan pesan-pesan kegelisahan saya,” kata Kris yang pernah menjadi pengurus
Lesbumi Gresik, 1995 – 2000.
Rencananya, saat pembukaan pameran Kris akan menggandeng pemusik harmonica asal Gresik, Amang Genggong, dan tampilan grup musik religi SMA Nahdlatul Ulama 1 (NUSA) Gresik, dimana Kris sehari-hari mengajar sebagai guru seni rupa.
 Musta’in, lahir di Lamongan, 17 Oktober 1976. Lukisan SMA Assaadah Bungah ini tercatat sebagai mahasiswa semester akhir fakultas Psikologi UNMUH Gresik dan wartawan Harian SURYA.

Nanang Fahrudin : KETIKA MELUKIS DIMAKNAI SEBAGAI IBADAH

Dunia seni rupa di Gresik boleh di bilang tidak ramah, karena tidak ada galeri atau gedung kesenian. Namun, bukan berarti proses kreatif berkarya para pelukis Gresik berhenti begitu saja. Buktinya, masih banyak pelukis yang menghasilkan karya dan dipamerkan di gedung kesenian di Surabaya, Yogyakarta dan Jakarta. Salah satu dari mereka adalah Kris Adji AW. Pelukis beraliran surealisme ekspresif ini sudah menghasilkan ratusan karya dan beberapa kali menggelar pameran tunggal sejak tahun 1980. Dan saat ini, pria berusia 45 tahun ini tengah bersiap-siap menggelar pameran tunggal di gedung Dewan Kesenian Surabaya (DKS) Surabaya. “Mungkin akan ada 30 lukisan yang akan saya bawa,” ujarnya saat ditemui di galeri sekaligus rumahnya di Jl. Usman Sadar, Gresik.
Melukis bagi guru SMA NU 1 Gresik ini, merupakan sebuah ibadah untuk mengkritik semua kebobrokan kemanusiaan yang kini menggejala di bumi Indonesia. Tak heran jika di setiap karya di atas kanvas terinspirasi oleh lingkungannya. Ia mencontohkan karya Tarian Jiwa yang menggambarkan orang kecil (wong cilik) yang berusaha menikmati hidupnya di tengah keterpurukan. “Bagi rakyat kecil, penderitaan dan kebahagiaan itu kan sangat tipis pembatasnya. Kadang sama saja,” tutur lulusan IKIP Surabaya jurusan Seni Rupa ini.
Beberapa lukisannya yang menggambarkan kehidupan masyarakat bawah adalah, Tarian Hitam Putih, Suara Mereka Pun Sama, Kasih Ibu dan beberapa lainnya. Khusus untuk lukisan Kasih Ibu, mencoba menggambarkan kepedihan ibu yang menggendong anaknya yang sudah mati terkena gelombang tsunami. “Setiap saya melukis, pasti berisi kritik sosial masyarakat di sekitar saya,” tutur Kris.
Lukisan-lukisan itu, bagi ketua bidang pendidikan dan pengembangan Dewan Kesenian Gresik (DKG) ini, bukan dinilai dari besar-kecilnya lukisan. Melainkan makna dan proses kontemplasi yang menyertai proses penciptaan sebuah karya. “Saya bisa melukis dalam waktu satu jam. Tapi komtemplasinya bisa setahun,“ terangnya.
Pandangannya tentang melukis adalah beribadah itulah yang menjadikan lukisannya mempunyai makna kritik sosial. Ia tidak memperdulikan orang lain akan mendengar “jeritannya” melalui karyanya atau tidak. Karena ia berharap nilai-nilai kebersamaan dan memegang prinsip seperti yang ditunjukkan saat anak-anak bermain bisa ditularkan pada yang dewasa.
Namun saat ditanya bagaimana menilai rancangan UU anti pornografi dan pornoaksi (APP) yang kini telah ramai diperbincangkan, Kris AW mengatakan menolaknya. Karena moral tidak perlu diundangkan, melainkan dikembalikan kepada masyarakat. Bahkan jauh sebelum perdebatan soal pornografi, pelukis asli kota Pudak ini sudah menghasilkan karya lukis berjudul Negeri Bokong. “Inul itu kan hanya letupan saja. Karena sebelumnya sudah banyak bokong-bokong di negeri ini,” tegasnya.
 Nanang Favhrudin, lahir 28 Mei 1979. Alumni UNMUH Malang. Seorang jurnalis yang tinggal di Bojonegoro. Sekarang bekerja di Koran Seputar Indonesia (SINDO) setelah dari JATIM MANDIRI.
(Tulisan ini pernah di muat di Harian JATIM MANDIRI, 16 Mei 2006)

Syafiqi M. Zain: PERPUSTAKAAN, KUBURAN DAN GNI

Malam itu 10 November 2006, aku dan Kris bertemu dengan seseorang teman. Teman itu adalah anggota DPRD Kabupaten Gresik. Kebetulan dia menjabat sebagai ketua komisi C. Yaitu komisi yang mengurusi persoalan tata bangunan di kota Gresik. Dari pembicaraan yang ada, aku dan Kris mendapatkan beberapa persoalan yang cukup menarik untuk dipaparkan. Teman itu bernama Syafiqi M. Zain

Tanya (aku) : Selamat malam?
Jawab (Syafiqi M. Z.) : Malam.
Tanya : Pak apa ada rencana Gresik untuk membangun sebuah gedung yang bisa digunakan untuk berekspresi dan bertemu? Ya, semacam gedung kesenian begitulah?
Jawab : Rencana itu ada. Tapi, dalam pembangunan kan perlu dilihat skala prioritasnya? Misalnya, apa benar sih orang Gresik lebih perlu gedung seperti itu dibandingkan dengan penerangan, kenyamanan jalan atau rekreasi? Dan jika memang perlu, pasti kita bangun.
Tanya : Lalu, jika memang begitu, apa tidak perlu untuk direalisasikan?
Jawab : Ya, itu kembali lagi pada skala prioritas pembangunan itu. Lagian, jika saya pribadi, saya akan lebih suka membangun sebuah perpustakaan yang benar (empat tingkat). Yang ada di tengah kota
kota. Dan di dalam perpustakaan itu, ada juga sebuah aula yang dapat dijadikan sebagai tempat ajang pertemuan dan ekspresi.
T Tanya : Jika ada di tengah kota, lalu bagaimana dengan yang ada di kecamatan-kecamatan?
Jawab : Itu susahnya. Sebab, kadang-kadang masih banyak dari masyarakat kita, yang masih menganggap jika kebutuhan umum mereka hanya kebutuhan pada sekolahan, rumah sakit, rumah ibadah, jalan raya dan penerangan. Selain itu belum terpikir. Jadi, jika ada dua program membangun perpstakaan ataukah membangun sarana lainnya, mereka cenderung akan memilih sarana yang lainnya itu.
Tanya : Termasuk di perumahan-perumahan yang makin banyak di Gresik ini, ya Pak?
Jawab : Ha, ha, ha, ini yang lebih parah. Sebab, jangankan untuk membangun perpustakaan, para pengembang dari sekian perumahan yang ada, pun jarang yang berpikir tentang pentingnya lahan pekuburan. Padahal, kita tahu, setiap orang kan pasti mati. Tapi, lahan untuk itu, wah, hampir tak terpikirkan.
Tanya : Tapi sebagai anggota dewan kan bisa menghimbau?
Jawab : Pasti. Tapi, masak anggota dewan tidak tertib hukum. Kan harus tetap lewat hukum yang ada. Meski, itu untuk himbauan yang baik. Jadi, tidak srudak-sruduk.
Tanya : Dan jika memang perpustakaan itu jadi dibangun di tengah kota, kira-kira dimana?
Jawab : Saya cenderung memilih Gedung Nasional Indonesia di perempatan jalan Pahlawan Gresik.
(Akh, berbicara tentang Gedung Nasional Indonesia, atau GNI aku jadi teringat, jika dulu-dulu, di gedung itulah sering digelar pameran, teater, musik, diskusi, dll. Tapi, kini, cukup untuk resepsi perkawinan belaka. Padahal, ya, padahal, di Gresik sendiri sudah mendesak untuk dibangun sebuah gedung tempat bertemu dan berekspresi para seniman dan cerdik pandainya.)
 Syafiqi M. Zain, putra Madura alumnus Universitas Negeri Jember. Dosen STIT Raden Santri Gresik, pengurus PKB Gresik dan Ketua Komisi C DPRD Gresik.

Tiko Hamzah : CATATAN KERINDUAN SEORANG PELUKIS Salam dari kawan lama

Ada seorang kawan seperjalanan, Ada seorang kawan seperjuangan, Ada seorang kawan sepenanggungan, Ada seorang kawan dalam satu doa, … Kris Adji AW yang rindu akan dunianya. Memang waktu telah merentang dan berjarak, Ketika itu kami seusia anak sekolah, Kami bercita—cita dan bermimpi, … menjadi seorang pelukis besar…

Namun tempaan waktu ternyata tidak mudah, bahkan menjadi seorang sarjana akan lebih mudah, dan menjadi pegawai akan terasa lebih ringan…, namun cita awal mempertahankan diri mnjadi seorang, idealisme “pelukis” memang banyak rintangan dan godaan. Eksistensi sebagai seorang “pelukis”, dituntut oleh ketegaran jiwa dan raga…, Bukanlah sekedar berkarya dan laku keras, bukanlah sekedar pesolek kebudayaan, bukan sekedar terkenal dan kaya raya…, Namun ada do’a sebagai rangkaian ritual ibadah kehidupan, yang bergolak dalam nadi dan denyut nurani yang tak terbayarkan…

Adalah sepenggal utopia dan ambivalensia dari kawan lama, yang rindu menjadi seorang “pelukis”. Sebuah dunia yang dianggapnya memiliki nilai aktualisasi dan tanggung- jawab dalam hidup yang dianggapnya terlalu pendek ini. Dua puluh tahun lebih dia bertahan menyimpan keinginan dan letupan idea… Waktu telah berkepanjangan. Ada dunia lain yang se mentara itu melindunginya, Untuk menahan gejolak dan menekan aura menjadi “sang pelukis”. Sementara itu, ada kemesraan yang melena dalam menghitung jam terbang.

Namun dia yang diayomi oleh dua dunia yang sementara itu menjadi “sang guru” dan “sang bapak”, dia tetap meletup dan meronta untuk meraih cita awal menjadi “sang pelukis” tetap menjadi tumpuan prioritas utama dalam mengarungi bahtera hidup dan wahana untuk menerjang gelombang samudra kehidupan…

Selamat datang kawan lama dalam kerangka arus besar kebudayaan dan sejarah. Indonesia baru…

Selamat menikmati damai dalam kehidupan yang penuh dinamika, warna dan pesona. Selamat… semoga keberuntungan menyertaimu “sang pelukis”…

(Gresik, 10 November 2006)

Anda Mencari Apa ?